Kolom Hikmah

Bersyukur Atas Kesyukuran

Ishaq Zubaedi Raqib - detikNews
Minggu, 16 Agu 2020 19:44 WIB
kolom hikmah
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Anda pasti tahu atau paling tidak pernah mendengar siapa Nabi Daud As ? Beliau termasuk nabi dan rasul yang namanya sering muncul dalam Alquran. Tentu tidak sembarang nama bisa berulangkali disebut di dalam kitab suci. Kalau tidak karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah SWT, sudah barang pasti nama itu akan sama saja dengan yang lainnya. Tapi "keberadaan" Nabi Daud As dalam Alquran, memang istimewa.

Bersama Nabi Sulaiman As, Nabi Ibrahim As, Nabi Ismail As, Nabi Musa As, Nabi Isa As, Nabi Yusuf As, Nabi Ya'qub As, Nabi Nuh As, dan lainnya, nama Daud As disebut sebagai teladan dalam kehidupan manusia. Namanya abadi karena anugerah Allah SWT kepadanya. Salah satu anugerah itu adalah kelebihannya menjadikan besi selembut tanah lempung. Di tangan Nabi Daud As, besi bisa berubah bentuk menjadi apa saja.

Kelebihan lainnya, nabi Daud As bisa menghardik dan memerintah setan dan iblis melakukan perintahnya. Diriwayatkan, beliau meminta pembantunya menjual hasta karya dari besi-besian berupa alat pertanian seperti cangkul, arit, linggis ke pasar. Belum lama pergi, pembantu sudah kembali ke rumah. Ditanya kenapa pulang cepat? Dijawab pasar sepi. Semua penghuni pasar sedang ziarah kubur, menangis berharap belas kasih Allah SWT.

Usut punya usut, rupanya rasa takut telah memenuhi hati mereka. Mareka takut dan kuatir akan janji dan adzab Allah. Kenapa mendadak rasa takut menyelimuti mereka? Rupanya pada hari itu, setan dan iblis yang bertugas di pasar, pagi-pagi sudah ditangkap dan dipenjara oleh Nabi Daud As. Mereka tak bisa mengganggu dan memalingkan hati ummat nabi Daud As. Tanpa kehadiran mereka, hasrat jual beli mendadak lenyap.

Sadar akan hal ini, Nadi Daud As melepas kembali para tahanannya. Dan pasar pun hidup kembali. Dan hidup pun, kembali berwarna. Transaksi jual beli pun kembali menggeliat. Dialektika kehidupan ekonomi berkorelasi pada lahirnya perbuatan baik dan perbuatan buruk. Pada konteks ini, setan dan iblis pun, dibutuhkan untuk menguji manusia; apakah termasuk yang istiqamah di jalan-Nya atau sering tergelincir lalu menjauh, atau sadar lalu kembali kepada Tuhan.

Dengan kelebihan dan kemampuan yang dimiliki itu, Nabi Daud As, suatu saat berbisik kepada Allah SWT dalam munajat yang sublim. Nabi Daud As merasa diri tak berdaya tanpa anugerah dari Allah SWT. Karunia dan anugerah itu berkonsekuensi pada lahirnya rasa syukur kepada Allah. Sebab, dengan nikmat, karunia, dan anugerah, maka Allah menguji para hamba-Nya. Syukur membuat manusia jadi lembut hati dan berperasaan.

Kelompok yang Sedikit

Bagaimana ekspresi Nabi Daud As saat bermunajat kepada Allah ? Ini salah satu contohnya, "Duhai, Tuhanku ! Bagaimana hamba tidak akan bersyukur, sedang tindakan bersyukur adalah nikmat dan anugerah dari-Mu." (Risalah Qusyairiyah) . Simaklah! Betapa dalam makna munajat ini. Renungi, betapa nikmat dalam pandangan Nabi Daud As bukan semata materi. Bukan cuma kedudukan. Bukan hanya kesalehan.

Bagi beliau, tindakan bersyukur adalah sebentuk nikmat istimewa, yang Allah anugerahkan kepada beliau dan kepada siapa saja yang gemar dan suka cita bersyukur. Sebab, bukankah memang tidak banyak manusia yang bisa, apalagi senang bersyukur ? Hingga karena itu, Rasul Muhammad SAW pernah didengar sahabat berdoa agar Allah berkenan memasukkan beliau ke dalam kelompok yang "sedikit" . Sepotong doa yang aneh di telinga Sahabat.

Apa pasal? Doa Nabi Muhammad SAW ada dasarnya dalam kitab suci. Bahkan, secara khusus doa itu terkait dengan nikmat yang diterima keluarga besar Nabi Daud As dan putranya yang juga nabi, yakni Sulaiman As. Inilah raja terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia. Kerajaan yang yang tak pernah dianugerahkan Allah kepada siapapun, sebelum dan sesudah Nabi Sulaiman As. Ayat Alquran itu yang berbunyi :

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Artinya : "Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (QS : Saba' : 13)

Cermati ujung ayat di atas. Bahkan, Allah SWT memaklumatkan betapa sedikit dari hamba-Nya yang mau bersyukur. Itulah kenapa Nabi Muhammad SAW memohon agar Allah memasukkan beliau ke dalam "grup sedikit" tersebut. Inilah grup yang dijanjikan Allah SWT akan selalu menerima tambahan nikmat. Sebaliknya, yang tidak bersyukur, diancam dengan kemurkaan Allah berupa adzab yang pedih.

Nikmat Kemerdekaan

Kini, di saat memperingati hari bersejarah bangsa Indonesia, apakah kita termasuk yang bersyukur atas nikmat kemerdekaan ? Bukankah kemerdekaan diperjuangkan dengan pertaruhan yang tidak main-main ? Bukankah karena itu, nyawa, harta benda dan apa saja jadi taruhannya ? Kenapa setelah kemerdekaan dianugerahkan Allah, kita tidak serta merta bersyukur ? Bahkan tak sedikit yang mencederai kemerdekaan dengan bermaksiat kepada-Nya ?

Salah satu bentuk implementasi syukur adalah "meletakkan sesuatu pada tempatnya : وَضْعُ كُلِّ شَيْءٍ فِى مَحَلِّهِ" . Mengacu pada definisi ini, maka setiap apa pun, terutama berkait dengan tanggungjawab sosial, harus dikembalikan kepada peruntukannya. Termasuk untuk apa jabatan presiden, menteri, pejabat negara, dari pusat hingga daerah diadakan ? Untuk apa para pemimpin informal dan nonformal dibentuk oleh pranata sosial dan kemasyarakatan ?

Jika semua bekerja, menjalankan tugas dan berkegiatan sesuai tugas pokok dan fungsi-- tupoksinya , maka itulah salah satu makna syukur kepada Allah. Menjauh apalagi meninggalkan, terlebih mengkhianati tupoksi, siapa saja sesuai kapasitas dan tanggungjawab pribadi dan sosialnya, maka ia diancam Allah dengan kemurkaan. Kemurkaan bisa meniscayakan tercabutnya nikmat alias hilangnya nikmat kemerdekaan ! Naudzubillah !

Sekali Merdeka Tetap Merdeka !
Sekali Bersyukur Terus Bersyukur !

Ishaq Zubaedi Raqib

Pembina Pengajian "Al Mawaidz Al Ushfuriyah" Masjid An Nur, Cileungsi, Bogor.

(erd/erd)