Membaca Trend Globalisasi (9)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Penggunaan Angka Perhitungan

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Sabtu, 15 Agu 2020 07:00 WIB
Poster
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Selain kalender Hijriyah yang merupakan kalender khusus yang ditawarkan peradaban Islam ke dalam dunia global, juga penggunaan angka perhitungan yang lebih dikenal dengan angka Arab. Nabi Muhammad Saw sudah memberikan isyarat untuk menggunakan angka perhitingan yang lebih praktis tetapi wujud formal ide Nabi direalisasikan oleh Al-Khawarizmi (780-850). Ia dikelnal di Barat dengan berbagai nama seperti al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi, al-Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi. Ia dilahirkan di Bukhara, Ketika usianya masih muda ia pernah mengabdi pada pemerintahan Khalifah al-Ma'mun, terutama di Baitul Hikmah, sebuah lembaga akademik paling bergengsi saat itu di Baghdad. Ia bekerja dalam sebuah observatorium yaitu tempat belajar matematika dan astronomi. Al-Khawarizmi juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan khalifah.

Angka perhitungan yang sudah popular saat itu ialah angka Romawi. yang sangat tidak praktis. Jika kita akan menuliskan tanggal 8-8-1998 maka kita harus menulisnya: VIII-VIII- MCMLXXXVIII. Dengan adanya angka Arab-Islam maka dengan mudah kita memainkan perhitungan yang serumit apapun dengan mudah bisa diselesaikan. Komputer canggih sekalipun tidak bisa memainkan angka-angka Romawi selincah dengan angka-angka atau bilangan Arab. Al-Khawarizmi menyederhanakan simbol angka dengan: 0,1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9. Untuk penambahan ke depan tinggal mengombinasikan angka-angka yang diinginkan. Bahkan kita juga bisa menghitung mundur di belakang angka nol (0) sekalipun dengan hanya menambahkan symbol minus (-) di belakang angka-angka yang diinginkan, misalnya -3013. Anggka-angka mikro yang lebih rigit pun dapat diungkapkan dengan menggunakan angka nol (0), misalnya 0,1 atau 00,00001, dll. Untuk menghindari perpanjangan penulisan angka dapat digunakan symbol pangkat yang diinginkan di sudut atas sebuah angka.

Bandingkan dengan angka romawi: I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII, IX,X, XL=40, L=50, LX=60, LXX=70, XC=90, C=100, CD=40, D=500, DCLXVI=666, CM=900, M=1000, I)) (dobel C terbalik)=5000, dan seterusnya. Jika kita melibatkan perhitungan triliunan, maka pasti kita semua akan repot membaca angkanya. Denagn adanya angka praktis yang ditemukan oleh Al-Khawarizmi, maka matematika dan aritamatika semakin berkembang. Perkembangan ilmu hitung ini merubah secara drastic peradaban manusia. Ilmu fisika yang paling berjasa dengan hadirnya angka-angka praktis tersebut.
Ia juga menemukan Secans dan Tangen dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Ia pernah memperkenalkan angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam. Beliau juga merupakan seorang penulis Ensiklopedia dalam berbagai disiplin. Al-Khawarizmi adalah seorang tokoh yang pertama kali memperkenalkan aljabar dan hisab. Banyak lagi ilmu pengetahuan yang beliau pelajari dalam bidang matematika dan menghasilkan konsep-konsep matematika yang begitu populer yang masih digunakan sampai sekarang. Karena itu, dunia berhutang budi terhadap Al-Khawarizmi. Ia dikenal bukan hanya sebagai Matematikawan tetapi juga ahli di dalam Ilmu Fikih sebagaimana ulama-ulama lainnya. Jenis keilmuan yang dikuasainya ialah Matematika, Aritmatika, Geometri, Kimia, Fisika, Observatorium, Ilmu Falak, Logika, Filsafat, Sejarah Islam, dan Musik.


Dari kualitas tokoh Al-Khawarizmi ini mengindikasikan bahwa umat Islam semenjak masa awal sudah lebih siap menghadapi globalisasi. Sayang sekali dinia Islam pernah mengalami sejarah kelam saat para penguasanya mengalami krisis kepemimpinan. Sendi-sendi kepemimpinan yang pernah dicontohkan Nabi ditenggelamkan oleh selerah rendah yang mengakibatkan dunia Islam takluk di bawah keperkasaan dunia Barat yang bangkit dalam waktu cepat. Mapukan dunia Islam mengambil alih posisi sebagai trend setter globalisasi? Kita tunggu sejarah yang sedang berproses. Semoga dunia Islam kembali mengulang sejarah emasnya di masa silam.

(lus/lus)