Anggota Komisi VI DPR Dukung Garuda di Ribut-ribut Mumtaz Rais-Pimpinan KPK

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 16:50 WIB
Anggota Komisi VI DPR-RI Andre Rosiade melakukan sidak penjualan masker serta hand sanitizer di apotek Kimia Farma di Padang, Sumatera Barat.
Foto: Anggota Komisi VI DPR-RI Andre Rosiade
Jakarta -

Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade mendukung tindakan kru maskapai Garuda dalam insiden ribut Ahmad Mumtaz Rais dan pimpinan KPK Nawawi Pomolango. Andre menyebut tindakan kru Garuda yang menegur Mumtaz Rais memang diperlukan.

"Menurut saya kejadian di dalam pesawat Garuda yang ramai-ramai kemarin ya saya rasa sudah benar ya tindakan dari kru untuk mengingatkan. Bahwa kru awak kabin harus menegakkan aturan keselamatan bagi penumpang. Wajar saja kalau kru menegur," kata Andre kepada wartawan, Jumat (14/8/2020).

Andre mengaku juga pernah diingatkan awak pesawat untuk mematikan handphone sebelum terbang. Menurut Andre, ini hal lumrah.

"Kadang saya juga di pesawat, pramugari ataupun purser kadang juga mengingatkan saya, 'Pak tolong handphone dimatikan'. Jadi itu standar yang lumrah yang harus kita patuhi sebagai penumpang," kata Andre.

Andre menyebut siapapun yang kedapatan berpotensi melanggar ketentuan penerbangan memang seharusnya diingatkan awak pesawat. Dia menegaskan tindakan kru Garuda sudah benar.

"Sebagai anggota Komisi VI DPR, saya mendukung langkah pihak Garuda yang mendukung awak kabin menegakkan aturan," ucap Andre.

"Untuk ini ke depan harapan saya ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar di pesawat benar-benar bisa mematuhi aturan yang ada, siapapun dan apapun pangkat kita, aturan harus kita laksanakan sebagai penumpang," imbuh dia.

Sebelumnya, insiden ribut antara pimpinan KPK Nawawi Pomolango dan Ahmad Mumtaz Rais terjadi di pesawat Garuda. Wasekjen PAN Irvan Hermawan, yang ikut serta bersama Mumtaz dalam pesawat tersebut, menjelaskan insiden keributan di pesawat GA 643 GTO-UPG-CGK (Gorontalo-Makassar-Jakarta).

Irvan membela Mumtaz Rais, yang disebut menggunakan HP di dalam pesawat. Menurut Irvan, keributan antara Mumtaz Rais dan Nawawi Pomolango sebenarnya sudah diselesaikan di atas pesawat.

"Penggunaan HP yang dilakukan oleh saudaraku Mumtaz Rais itu pada saat pesawat berhenti di Bandara Ujung Pandang, Makassar, untuk transit. Pesawat dalam keadaan kosong kecuali penumpang transit, bukan saat boarding," kata Irvan.

"Pada saat saudaraku Mumtaz Rais menggunakan HP dan diminta dimatikan oleh kru pesawat (pramugari) memang terjadi perdebatan, termasuk perdebatan dengan Bapak Nawawi Pomolango. Namun masalah ini sudah bisa diselesaikan secara baik pada saat itu juga oleh pimpinan rombongan Bapak Pangeran Khairul Saleh, yang duduknya di pesawat dekat dengan Mumtaz Rais dan Pak Nawawi Pomolango," ucap Irvan.

Sementara itu, Dirut Garuda Irfan Setiaputra menyebutkan keributan dipicu oleh salah satu penumpang kelas bisnis yang kedapatan menggunakan handphone saat pesawat sedang boarding di Gorontalo dan ketika pesawat tengah melakukan refueling sewaktu transit di Makassar.

Kejadian ini kemudian didengar oleh penumpang lain yang juga duduk di kelas bisnis. Penumpang tersebut kemudian ikut menegur sehingga terjadi adu argumen.

"Adapun atas laporan salah satu penumpang yang terlibat adu argumen, kejadian tersebut saat ini tengah ditangani oleh pihak berwajib. Garuda Indonesia juga akan menghormati proses hukum yang berjalan termasuk secara kooperatif akan memberikan informasi lebih lanjut bilamana dibutuhkan," lanjutnya.

(gbr/fjp)