Zulhas Jadi Mentor Gibran, Amien Rais: Seperti Tak Percaya Telinga-Matanya

Kadek Melda - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 18:55 WIB
Sejumlah tokoh partai hadiri Rakernas PAN, Sabtu (7/12/2019).
Amien Rais dan Zulkifli Hasan saat Rakernas PAN tahun 2019 (foto sebelum pandemi Corona) (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Politikus senior Amien Rais merespons Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan yang mewakafkan diri menjadi mentor calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming. Amien menyebut keputusan Zulhas itu seperti orang yang tidak percaya pada telinga dan mata sendiri.

"Itu bagi orang-orang paham, itu seperti nggak percaya dengan telinganya dan matanya," kata Amien saat menyampaikan risalah kebangsaan di Resto Pulau Dua, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (13/8/2020).

Keputusan Zulhas mewakafkan diri menjadi mentor putra sulung presiden Joko Widodo (Jokowi) disampaikan melalui akun Twitter pribadinya. Zulhas mengatakan Gibran menjadi salah satu calon pemimpin muda yang dia mentori.

"Saya mewakafkan diri saya untuk menjadi mentor anak-anak muda calon pemimpin bangsa, siapapun di seluruh Indonesia, mengingatkan mereka betapa penting visi kebangsaan ini. Dari para calon pemimpin muda itu, Gibran adalah salah satunya #MentorPolitik," cuit Zulhas dalam akun Twitter-nya, @ZUL_Hasan, seperti dilihat detikcom, Kamis (13/8).

Bahkan Zulhas juga memberikan empat pesan untuk Gibran melalui posting-an di akun Twitter-nya. Zulhas mengungkapkan banyak muncul berbagai pertanyaan terkait keputusannya menjadi mentor, dari politikus senior hingga mantan pejabat tinggi.

"Empat Pesan Zulhas untuk Gibran. Banyak kolega yang bertanya kepada saya, Bagaimana maksudnya Bang Zul menjadi mentor politik Gibran @Chilli_Pari itu? Di antara yang bertanya itu banyak politisi senior, mantan pejabat tinggi negara, dan lainnya #MentorPolitik," ujar Zulhas.

Zulhas menuturkan calon pemimpin muda sudah memiliki banyak hal, dari ide sampai pemikiran optimisme. Namun ada satu hal yang menurutnya tidak dimiliki para calon pemimpin muda, yakni visi kebangsaan.

"Saya jawab pada mereka sederhana saja. Anak muda calon pemimpin itu sudah punya banyak hal, mulai dari ide, kreativitas, inovasi, hingga optimisme. Tapi kadang yang tidak mereka miliki adalah visi kebangsaan. Tugas kita yang senior mengajarkan visi kebangsaan ini," tuturnya.

(imk/imk)