KPK Periksa Kepsek di Riau yang Mundur karena Diduga Diperas Oknum Jaksa

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 18:45 WIB
Ali Fikri
Ali Fikri (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

KPK melakukan pemeriksaan terhadap kepala sekolah yang diduga diperas oleh oknum LSM dan kejaksaan di Inhu, Riau. Namun KPK tidak merinci lebih lanjut pemeriksaan terkait apa yang dilakukan KPK.

"Benar ada kegiatan KPK disana," kata Plt Jubir KPK Ali Fikri, dalam keterangannya, Kamis (13/8/2020).

Ia mengatakan saat ini KPK masih dalam tahap penyelidikan sehingga tidak dapat menyampaikan informasi lebih detail. Ia mengatakan nantinya KPK akan memberi informasi lebih lanjut setelah ada pendalaman kasus.

"Namun karena masih proses penyelidikan, saat ini kami belum bisa menyampaikan detail kegiatan dimaksud. Perkembangannya nanti kami informasikan lebih lanjut," ungkap Ali.

Sebelumnya, Seluruh kepala SMP negeri di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, mengundurkan diri karena diperas oleh oknum LSM. Menurut Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Provinsi Riau, oknum LSM yang memeras para kepsek tersebut bekerja sama dengan oknum kejaksaan.

"Persoalan yang dihadapi para kepala sekolah di Inhu itu, mereka tak tahan akan diperas oknum kejaksaan," kata Ketua Biro LKBH PGRI Provinsi Riau Taufik kepada detikcom, Jumat (17/7).

Modusnya, kata Taufik, oknum LSM mencari-cari kesalahan para kepsek tersebut dalam pengelolaan dana BOS dan memberikan informasi ke oknum jaksa. Selanjutnya, jaksa menggertak seolah-olah akan melakukan penyelidikan.

"Para kepsek ini sudah tidak tahan lagi menjadi upaya pemerasan yang dilakukan permainan oknum kejaksaan dengan LSM itu. Mereka diintimidasi, digertak oleh oknum kejaksaan," kata Taufik.

Hal serupa juga disampaikan Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Inhu Ibrahim yang menyatakan 64 kepala SMP negeri di Inhu mengundurkan diri. Menurut Ibrahim, para kepsek itu mundur karena diduga diperas oleh oknum LSM terkait pengelolaan dana BOS.

"Alasan mereka itu tak tahan diperas oknum LSM terkait dana BOS. Makanya mereka lebih baik memilih mundur dari jabatannya untuk menjadi guru biasa saja," ucapnya, Kamis (16/7).

(yld/imk)