Fix! Fahri Hamzah-Fadli Zon Tak Tolak Penghargaan Jokowi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 09:02 WIB
Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Fahri Hamzah saat rapat membahas proses pemulihan dan rehabilitasi bagi daerah-daerah yg terdampak bencana.
Fahri Hamzah dan Fadli Zon (Foto: Twitter @fadlizon)
Jakarta -

Persaudaraan Alumni (PA) 212 meminta duo politikus, Fadli Zon dan Fahri Hamzah menolak Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Apakah Fadli dan Fahri akan menolak? Begini pernyataan keduanya.

Dalam perbincangan d'Rooftalk detikcom, Fadli dan Fahri berbicara mengenai bintang tersebut. Fahri mengaku biasa saja ketika mengetahui dirinya dan Fadli akan mendapatkan Bintang Mahaputera Nararya. Sebab, sebut dia, bisa saja pemberian bintang itu batal.

"Biasa-biasa aja, ya. Pertama-tama itu (pemberian bintang) rutin, belum tentu juga (dapat bintang)... Pak Mahfud juga kan pernah mau jadi wapres, tiba-tiba nggak jadi," kata Fahri. Fadli, yang juga hadir dalam perbincangan d'Rooftalk lalu tertawa.

Fahri dan Fadli kemudian diminta memberikan penilaian satu sama lain, apakah mereka layak mendapatkan Bintang Mahaputera Nararya. Fadli menilai Fahri layak mendapatkan bintang tersebut.

"Coba periksa lah yang pernah dapat bintang-bintang itu, ya kan. Kalau diperiksa, saya kira, menurut saya, ya, (Fahri) layak lah. Kita, mungkin dalam perspektif yang berbeda walaupun sekali lagi tak ada iming-iming atau harapan itu," ucap Fadli.

Begitu juga dengan Fahri. Waketum Partai Gelora itu menilai Fadli layak diganjar penghargaan Bintang Mahaputera Nararya.

"(Fadli) layak sekali lah. Ya, yang dulu atau yang sekarang, karena dia kan pernah juga jadi anggota MPR (DPR, red), seperti saya. Jadi, umurnya di lembaga legislatif atau lembaga perwakilan itu kan juga cukup lama," tutur Fahri.

Fahri dan Fadli kemudian diminta menanggapi mengenai pernyataan Rocky Gerung, yang menilai semestinya dia dan Fadli mengembalikan bintang tersebut kalau kritiknya tidak dijawab pemerintah. Dia menekankan, tidak boleh merasa orang yang paling benar.

"Saya mencoba untuk berimajinasi tentang arus pikiran bernegara. Tidak boleh hanya karena seseorang berkata tertentu, mengubah tertentu, seolah-olah harus selalu yang saya katakan ini mengubah pemerintah. Itu juga kekanak-kanakan. Saya tidak boleh berpikir, saya satu-satunya orang dan pasti benar di republik ini," papar Fahri.

"Bahwa saya menyatakan kritik saya secara confident, saya nggak akan minggir. Tapi, menganggap seolah-olah apa yang saya katakan pasti benar dan harus diikuti oleh orang itu jg tidak benar," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2