Tetap Kritik Jokowi, Fadli Zon Ngaku Tak Ditegur Prabowo

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 20:55 WIB
Waketum Partai Gerindra Fadli Zon kembali menyindir Presiden Jokowi dalam sebuah diskusi di Seknas Prabowo-Sandi.
Fadli Zon (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Politikus Gerindra Fadli Zon masih mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) meskipun partai tempatnya bernaung sudah masuk koalisi pemerintah. Fadli mengaku tidak pernah ditegur Ketua Umum (Ketum) Gerindra Prabowo Subianto secara langsung.

"Secara langsung saya nggak pernah sih ya, nggak pernah. Ya saya rasa beliau orang yang cukup demokratis, gitu," kata Fadli dalam perbincangan d'Rooftalk detikcom, Rabu (12/8/2020).

Meski demikian, sebut Fadli, Prabowo mengingatkan bahwa Gerindra sudah masuk koalisi pemerintah. Di sisi lain, Fadli merasa kritiknya merupakan bentuk tanggung jawab sebagai anggota legislatif.

"Walaupun, ya, disampaikan juga bahwa kita sudah bagian dari pemerintah. Ya, tapi saya juga merasa bertanggung jawab sebagai anggota legislatif, bukan hanya sekadar tukang stempel, karena kita kan membawa amanah dari rakyat yang memilih kita, di daerah pemilihan paling tidak, dan juga di seluruh Indonesia kalau ada yang mempunyai visi yang sama," papar Fadli.

Fadli menekankan bahwa kritiknya merupakan bagian dari berdemokrasi. Dia berharap masyarakat bisa menerima kritiknya sebagai proses kedewasaan berpolitik di Indonesia.

"Jadi, saya kira ini bagian dari demokrasi. Jadi, harusnya bisa kita terima sebagai suatu bagian dari proses kedewasaan berpolitik di dalam berdemokrasi," tutur Fadli.

Fadli memang masih mengkritik Jokowi meskipun Gerindra sudah masuk koalisi pemerintah. Fadli tetap mengkritik saat angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 minus 5,32%.

"Pemerintah terbukti lamban dan salah resep dalam mengantisipasi terjadinya krisis, baik terkait pandemi maupun eksesnya bagi perekonomian nasional. BPS sudah mengumumkan bahwa PDB kita pada kuartal II kemarin minus 5,32 persen. Angka ini jauh lebih buruk daripada ekspektasi pemerintah, yang sebelumnya memperkirakan hanya akan minus 4,3-4,8 persen saja," kata Fadli kepada wartawan, Jumat (7/8).

(zak/gbr)