MPR Sarankan Pakai Model U Theory untuk Sosialisasi Pancasila

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 12:29 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan materi sosialisasi dalam proses pembinaan ideologi Pancasila harus memiliki keterikatan dengan peserta. Lestari yang kerap disapa Rerie tersebut menilai harus ada sejumlah penyesuaian agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh peserta sosialisasi.

"Selama ini penyampaian materi dalam proses pembinaan ideologi Pancasila hanya bersifat satu arah, akibatnya peserta hanya menghafal tanpa memahami maknanya," ungkap Rerie dalam keterangannya, Rabu (12/8/2020).

Menurut Rerie, pada penyampaian materi pembinaan ideologi Pancasila, diharapkan ada tahapan dialog, diskusi hingga kontemplasi atas materi yang disampaikan. Ini karena acapkali sosialisasi nilai-nilai pancasila di masa lalu hanya formalitas, jadi hasilnya jauh dari esensi forum itu sendiri. Oleh karena itu, peran aktif peserta dalam proses pemahaman ideologi Pancasila dinilai penting.

"Dengan aktif dalam proses pemahaman ideologi Pancasila, diharapkan peserta tidak terjebak dalam pemahaman satu arah yang hasilnya hanya sekadar hafal tanpa memahami materi yang disampaikan," ujarnya.

Saat menjadi narasumber dalam acara Diskusi Kelompok Terpimpin Penyusunan Draf Awal Modul Standarisasi Materi dan Bahan Ajar Metode Pembinaan Ideologi Pancasila Bagi Pejabat Negara, Legislator Partai NasDem itu mengungkapkan pengalamannya saat menyosialisasikan empat konsensus kebangsaan, dengan menerapkan konsep U Theory karya Otto Scharmer.

Menurutnya, U Theory sebagai tawaran model penyampaian bisa dieksplorasi lebih lanjut. Proses inti dalam U Theory adalah observe, retreat-reflect dan act. Karena itu, jelas Rerie, langkah pertama penyampaian nilai-nilai Pancasila adalah lewat pengoptimalan ruang mendengarkan setiap persepsi dalam perumusan kebijakan, mengamati dinamika sosial dampak dari tantangan dan membentuk pola pikir positif untuk membangun kesadaran sosial.

"Perwujudan kebijakan pun bersumber dari hasil musyawarah, sehingga pembentukan sistem atau model aksi bisa diimplementasikan," terangnya.

Menurut Rerie, dengan mendapat masukan dari berbagai pihak, BPIP diharapkan mampu menyiapkan materi atau modul-modul pembinaan ideologi Pancasila yang mudah dipahami dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat luas.

Karena upaya pembinaan ideologi Pancasila yang meluas dan menyasar lebih banyak kalangan semakin mendesak, seiring dengan semakin banyaknya masyarakat kurang memahami Pancasila, yang tercermin dari perilaku keseharian masyarakat yang mulai jauh dari nilai-nilai Pancasila.

Sebagai contoh, tambah Rerie, mulai meluas sikap mendahulukan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum dalam hal disiplin menggunakan masker di masa pandemi COVID-19.

"Bila nilai Pancasila yang mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi dipahami dengan benar oleh masyarakat, tentunya di masa pandemi ini tidak akan terjadi orang abai memakai masker," pungkasnya.

(mul/ega)