Di Tengah Pandemi, Santri Entrepreneur Bisa Hidupkan Ekonomi Pesantren

Mega Putra Ratya - detikNews
Selasa, 11 Agu 2020 23:50 WIB
Santri Entrepreuner
Foto: istimewa
Jakarta -

Berwirausaha di masa pandemi menjadi pilihan yang tepat, namun harus dilakukan secara lebih kreatif dan inovatif. Selain untuk memperkuat ekonomi secara individu, berwirausaha bagi para santri dapat memperkuat ekonomi pesantren secara kolektif.

"Santri anak muda menjadi sangat krusial dalam situasi saat ini. Ketika situasi ekonomi menurun akibat dampak pandemi, pesantren dan ekonomi masyarakat di sekitar pesantren bisa mulai dibangkitkan dengan berbagai ikhtiar bersama. Santri punya multi bakat dan potensi untuk menggerakkan ekonomi di lingkungannya, mencoba menjadi entrepreneur yang menghidupkan potensi perekonomian di lingkungan pesantren," ujar pendiri Gerakan Anak Muda Punya Usaha (AMPUH) Dimas Oky Nugroho, Selasa (11/8/2020).

Dimas yang juga Ketua Perkumpulan Kader Bangsa ini mensosialisasikan Gerakan AMPUH di Pondok Pesantren Miftahul Muta'alimin, Babakan, Cirebon, Jawa Barat, Senin (10/08).

Dalam kunjungan tersebut Dimas juga menekan pentingnya menjalankan protokol kesehatan dalam kondisi adaptasi kebiasaan baru di mana aktivitas sosial ekonomi masyarakat mulai digerakkan secara berhati-hati.

Menurut Dimas, anak muda yang saat ini populasinya berjumlah besar harus menjadi pelopor pemulihan ekonomi.

Dalam diskusi tersebut Dimas menjelaskan Gerakan AMPUH yang didirikannya tahun 2015 lalu. Dimas yang juga pendiri Diskusi Kopi dan Ruang Berbagi ini bercerita Gerakan AMPUH adalah wadah bagi anak-anak muda untuk memulai inisiatif berwirausaha secara kolaboratif.

"Gerakan AMPUH bertujuan untuk membuat lebih banyak anak-anak muda mandiri dan berkapasitas, mendorong kelas menengah yang berkualitas, peduli dan bertanggung jawab dengan kemajuan negara-bangsanya," ujar mantan Staf Khusus Kantor Staf Presiden ini.

Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Muta'alimin Cirebon KH Muhammad Nuruzzaman menilai meski memiliki potensi tapi akses santri untuk menghidupkan perekonomian di lingkungannya masih minim.

Menurutnya, santri harus diberikan akses konkret dan keterampilan yang berkelanjutan untuk bisa mencetak wirausaha dari kalangan santri yang pada gilirannya dapat memajukan ekonomi pesantren.

"Akses permodalan dan pelatihan baik dari swasta maupun pemerintah saya rasa dibutuhkan untuk para santri agar bisa memaksimalkan potensi di pesantren," katanya.

Dia menyambut positif adanya kolaborasi antara pesantren yang ia pimpin dengan Gerakan AMPUH.

"AMPUH yang berisikan wirausaha muda, apalagi melek digital, bisa menjadi mitra pesantren dalam hal sharing knowledge. Dan, hal ini tentu menjadi langkah positif bagi para santri untuk bertransformasi menjadi wirausaha yang memiliki akses informasi, kapasitas dan jaringan secara lebih luas," ucapnya.

KH Muhammad Nuruzzaman adalah sosok tokoh muda Nahdliyin yang menjadi generasi baru kepemimpinan pesantren yang berdiri sejak 1715 dan saat ini memiliki 15 ribu santri tersebut.

Ia juga mengelola berbagai unit usaha kolaboratif berbasis pesantren tradisional, mulai dari sektor pendidikan, pangan, usaha kopi, batik, IT, penerbitan dan berbagai inisiatif penelitian sosial dan pemikiran. Nuruzzaman selama ini juga dikenal sebagai pakar dan penggiat kebangsaan dan anti radikalisme.

(ega/mpr)