BMG: Longsor Banjarnegara Akibat Akumulasi Curah Hujan
Kamis, 05 Jan 2006 09:20 WIB
Banjarnegara -
BMG Banjarnegara menduga musibah tanah longsor di Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, akibat akumulasi curah hujan yang tinggi."Perkiraan kami, longsor ini akibat akumulasi hujan yang tinggi sehingga kandungan air di dalam tanah menjadi jenuh," kata Kepala Stasiun BGM Banjarnegara, Pujo Atmojo, di Kecamatan Banjarmangu, sekitar 500 meter dari lokasi bencana, Kamis (5/1/2006)."Berdasarkan pengamatan dan laporan warga, di sekitar Bukit Pawinihan sekitar 2 tahun lalu ada patahan," imbuhnya. Dijelaskan, curah hujan tinggi telah terjadi mulai Desember hingga awal tahun 2006. Pihaknya juga mencatat beberapa kali getaran dalam skala kecil. "Memang ada getaran Rabu kemarin, namun saya tidak bisa memastikan apakah itu getaran di sekitar sini atau daerah lain," kata Pujo. Getaran yang terjadi, pertama, dengan kekuatan 1,7 SR pada pukul 11.32.22 WIB. Getaran kedua, lebih kecil sekitar 1,5 SR pada pukul 12.14.19 WIB."Tapi, longsor yang terjadi kemarin curah hujannya yang tinggi," tegas Pujo. Menurut catatannya, selama bulan Desember tercatat curah hujan mencapai 783 milimeter per bulan. Itu curah hujan yang tinggi atau di atas normal. Untuk normalnya, wilayah Banjarnegara sekitar 500-600 mm.Pujo tak bisa memastikan apakah illegal logging turut berperan dalam musibah ini. "Namun sekali lagi pada awal Januari ini, curah hujannya tinggi. Pada tanggal 1, tercatat 57,7 mm. Tanggal 2 Januari tercatat 51,5 mm. Tanggal 3 Januari tercatat 21,5 mm. Tanggal 4 tercatat 37 mm," jelas Pujo.Secara terpisah, Haryanto, staf BMG, menyatakan, di sekitar perbukitan di daerah Banjarnegara banyak warga yang melakukan penebangan liar di kawasan hutan lindung. "Dan itu sudah terjadi beberapa lama," katanya.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































