Round-Up

6 Fakta Erupsi Gunung Sinabung Setelah 1 Tahun Tertidur

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2020 20:35 WIB
Warga membersihkan jalan yang dipenuhi debu vulkanik pasca erupsi Gunung Sinabung, di Desa Sigarang-garang, Karo, Sumatera Utara, Sabtu (8/8/2020). Gunung Sinabung erupsi dengan tinggi kolom 2.000 meter. ANTARA FOTO/Sastrawan Ginting/Lmo/hp.
Foto: Dampak erupsi Gunung Sinabung. (ANTARA FOTO/SASTRAWAN GINTING)

Mengenai data pemantauan kegempaan, jumlah dan jenis gempa yang terekam selama 1 Juli hingga 7 Agustus 2020 pukul 24.00 WIB, didominasi oleh gempa hembusan, tektonik lokal, dan gempa tektonik jauh. Pada tanggal 7 Agustus 2020, terekam 15 kali Gempa hembusan, 6 kali gempa low frequency, 21 kali Gempa vulkanik dalam dan 2 kali gempa tektonik Jauh. Terjadi peningkatan Gempa Vulkanik.

Sementara pada 8 Agustus 2020 pukul 01.58 WIB, terekam satu kali gempa letusan dengan amplituda maksimum 120 mm dan lama gempa 1 jam 44 detik.

"Analisis, erupsi yang terjadi bersifat freatik, tidak didahului oleh kenaikkan gempa-gempa vulkanik yang signifikan, menandakan tidak adanya suplai magma ke permukaan. Erupsi yang terjadi pada 8 Agustus 2020 lebih diakibatkan oleh overpressure dan aktivitas permukaan," ucapnya.

ESDM melanjutkan, erupsi hanya berlangsung singkat, tidak diikuti oleh kenaikan kegempaan dan perubahan visual yang mengarah pada rangkaian erupsi yang lebih besar.


Status Siaga

Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang erupsi lagi saat ini berstatus siaga.

"Saat ini Gunung Sinabung berada pada status Level III atau Siaga," tulis akun resmi Kementerian ESDM, Sabtu (8/8/2020).

Kementerian ESDM menyampaikan sejumlah rekomendasi terkait erupsi Gunung Sinabung ini.

Pertama, masyarakat, pengunjung, atau wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas di desa-desa yang sudah direlokasi serta lokasi di dalam radius radial 3 km dr puncak Gunung Sinabung.

"Serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara," ujarnya.

Rekomendasi kedua, jika terjadi hujan abu, masyarakat diimbau memakai masker bila ke luar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik.

"Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh," ujarnya.