BMG: Longsor Masih Mungkin Terjadi Lagi di Jateng
Rabu, 04 Jan 2006 16:52 WIB
Semarang - Longsor di Dusun Gunung Raja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kab. Banjarnegara, Jateng, Rabu (4/1/2006) yang menimbun 102 KK, masih mungkin terjadi lagi di daerah lain. Karena pada Januari curah hujan di wilayah Jateng terhitung tinggi.Demikian diungkapkan Kepala Seksi Data dan Informasi BMG Stasiun Klimatologi Semarang, M. Yahya. Berdasar analisisnya, longsor terjadi pada kawasan bukit atau pegunungan yang kontur tanahnya labil. Hal itu banyak ditemukan di Jateng."Longsor bisa terjadi karena beberapa hal. Misalnya hujan deras, kontur tanah yang labil, dan kemiringan. Kalau melihat tiga faktor itu, longsor masih mungkin terjadi di Jateng," katanya ketika ditemui di kantornya, Jl. Siliwangi, Semarang, Rabu (4/1/2006).Sejumlah daerah yang rawan longsor di antaranya Pegunungan Slamet, Sindoro, Sumbing, dan Muria. Daerah itu meliputi Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Purbalingga, Jepara, Demak, dan lain-lain. Warga yang mendiami kawasan tersebut diminta waspada jika hujan lebat mulai turun.Di daerah pegunungan, curah hujan melebihi daerah dataran. "Rata-rata curah hujan di daerah pegunungan lebih dari 6.000 mm per bulan. Sedangkan pada daerah dataran curah hujannya berada antara 300 mm - 500 mm per bulan," tambahnya.Selain longsor, bencana lain yang cukup mengancam adalah banjir. Kalau air dari hulu mengalir ke hilir dalam jangka cepat karena hujan, maka potensi terjadinya banjir sangat tinggi. "Januari ini merupakan puncak musim hujan. Dalam pantauan BMG, hujan selalu datang mulai siang hingga malam. Hujan diperkirakan mulai berkurang pada pertengahan Februari mendatang," katanya.Dalam alat pemantau angin dan awan yang dimiliki BMG, terlihat hujan terjadi hampir tiap hari di sebagian besar daerah di Jateng. Tidak tanggung-tanggung biasanya hujan turun dalam beberapa jam. Kondisi ini memicu terjadinya bencana seperti longsor dan banjir.
(nrl/)











































