Bencana Alam di Jember Sisakan Banyak Persoalan
Rabu, 04 Jan 2006 15:35 WIB
Jember - Mendung tebal yang menggelayut di atas Kecamatan Panti menambah rasa duka bagi ribuan warga setempat. Sebab dua hari lalu, rumah beserta harta benda ludes diterjang banjir bandang.Korban keganasan alam ini pun terus bertambah. Sedikitnya 60 an nyawa melayang. Korban tewas sebagian besar berasal dari Desa Kemiri dan Gunung Pasang yang tak sempat mengungsi.Melihat lokasi bencana pasti banyak yang mengelus dada. Sebab, peristiwa kemanusiaan ini hanya berselang beberapa hari dari peringatan satu tahun bencana tsunami di Aceh. "Ini tidak beda dengan tsunami mas," kata AbdulDjalal warga Dusun Bunut Desa Kemiri kepada detikcom, Rabu (4/1/2006).Sebab, kata Djalal, saat banjir bandang terjadi, ketinggian air sekitar 7 meter dan langsung menggulung bangunan yang ada, termasuk jembatan Dlimo yang ada persis di depan rumahnya. Dengan hilangnya jembatan itu, otomatis wilayah Dusun Dlimo yang ada di seberang terisolasi hingga sekarang. Hingga Rabu (4/1/2005) belum ada upaya untuk membuat jembatan darurat.Sebab, pengamatan di lapangan konsentrasi tim SAR gabungan TNI, Polri, Perhutani, Satpol PP Pemkab Jember, dan organisasi masyarakat lainnya seperti Banser, Club 4x4 Raung Jember tertuju ke Desa Suci yang lokasinya 2 kilometer di atas Desa Kemiri.Di dusun tersebut, memang terdapat dua dusun yang saat kejadian penduduknya terisolasi dan lainnya tewas terbawa arus. Selain itu, di kebun kopi Gunungpasang juga dilaporkan masih banyak korban tewas yang belum bisa dievakuasi karena cuaca yang kurang mendukung. Di Desa Suci data yang tercatat, 39 orang tewas terdiri dari Dusun Gaplek dan Dusun Kebon serta Kongsi Tengah.Roestiah (38), kerabat Djalal yang saat kejadian sedang membantu mengemasi barang-barang juga nyaris kehilangan nyawa jika tidak saja tidak lari. "Di belakang air yang tingginya serumah datang dengan suara bergemuruh. Saya sempat kesapu dan kena balok kayu, tapi untung masih bisa menyelamatkan diri," katanya saat ditemui sedang membantu membersihkan rumah Djalal.Sumarni salah warga Desa Suci yang berhasil selamat bersama dua anaknya juga tidak bisa menahan tangis. Sebab harta bendanya tak mampu diselamatkan. "Saya sejak sore sudah ngungsi dengan para tetangga ke tempat lain. Tapi karena jalur terputus hampir lima jam kemudian baru ditemukan petugas," katanya saat ditemui di Balai Desa Kemiri sesaat turun dari truk milik Polri yang mengevakuasinya.Musibah terbesar di awal tahun 2006 ini tentunya harus diimbangi dengan kebijakan pemerintah dalam penangannnya supaya lebih serius. Karena, dari lima ribu pengungsi sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. "Yang lak-laki kebanyak tewas karena berusaha menyelamatkan barang-barang. Sedang anak istri sejak sore banyak yang telah diungsikan," kata Suryoto, warga Dusun Kentong, Kemiri. Dan nasib pengungsi yang tersebar di berbagai desa di Kecamatan Panti juga mengenaskan. Terlihat dari pakaian mereka lusuh. Dan tidak sedikit yang hanya mempunyai pakaian yang melekat di badan. Apalagi, cuaca beberapa hari ini tidak bersahabat. Mendung dan gerimis menambah suasana menjadi memprihatinkan. Untuk sementara pengungsi mendapat makanan dari para dermawan yang mengirimkan nasi bungkus, mie instan maupun makanan ringan lainnya. Sebab tanda-tanda banjir sejak sore telah terasa. Khawatir, ketinggian air meningkat maka keluarga lebih dulu diungsikan ke tempat yang aman. "Lha bapak-bapaknya memilih mengambil barang. Tapi yang tewas juga ada yang sedang tidur dan usia yang sudah tua dan sakit-sakitan sehingga tidak bisa menyelamatkan diri," kata pria yang sehari-hari sebagai guru ini.Selisih datangnya banjir datang sebenarnya cukup jauh. Seumpama pemerintah daerah setempat bisa lebih dulumengantisipasi, korban jiwa bisa ditekan. Dari pengakuan Djalal, banjir terjadi sore hari. Dan Minggu malam sekitar pukul 21:45 jembatan Dlimo tergerus dan terputus. Sedangkan banjir bandang terjadi Senin pukul 01.00 WIB dinihari. "Seumpama ada peringatan dini, jumlah korban tewas tidak sebanyak ini," kata Djalal.Banjir yang terjadi ini dinilai Djalal dalam sejarah yang terbesar. Selama dirinya 45 tahun tinggal tidak pernah ada banjir bandang yang sedemikian dasyatnya. "Paling-paling sehari surut. Nggak tahu yang sekarang kok begitu besar," katanya. Djalal pun menuding jika musibah ini dipicu dengan gundulnya hutan dilereng Gunung Argopuro. "Ini karena ada perkebunan di atas. Dan lihat sendiri banyak batang pohon bekas terbakar dibagian pangkalnya. Dan ada lagi bekas gergajiam," ungkapnya kesal.Dia pun meminta kepada pemerintah agar tidak menyalahkan alam atas bencana ini. "Saya minta Gubernur Jatim tegas terhadap anak buahnya yang merusak lingkungan. Jangan lagi korbankan rakyat," tegas Djalal yang menantang dipertemukan dengan Gubernur Imam Utomo ini.Sayangnya tudingan Djalal ini ditepis Imam Utomo. Dalam selisih sehari setelah banjir bandang, Imam Utomo saat meninjau Desa Kemiri sudah berani menyimpulkan jika musibah ini sama sekali bukan karena gundulnya hutan Argopuro. "Sama sekali tidak. Hutan diatas masih utuh. Ini berdasarkan foto udara baru-baru saja," bantah Imam.Sebalinya, kata Imam, banjir bandang ini disebabkan terjadinya cekungan yang lambat laun karena curah hujan tinggi sehingga jebol. "Tapi kita tetap akan pelajari lagi," kata Imam. Untuk mengatasi pengungsi yang terus mengalir ini, Pemkab Jember mendapat bantuan dana Tanggap Bencana dari Pemprov Jatim Rp 200 juta dan Pemerintah Pusat Rp 500 juta. Selain itu juga beras, obat-obatan, roti,dan makanan lainnya.
(jon/)











































