Jajal Rantis Maung, Bamsoet Imbau Industri Pertahanan Diperkuat

Yudistira Imandiar - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 17:05 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: dok MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo berkesempatan menjajal kendaraan taktis (rantis) Maung di Kantor Pusat PT Pindad, Bandung Jawa Barat, Jumat (7/8/2020). Bamsoet--sapaan akrab Ketua MPR--juga mencoba senapan serbu SS2 - V4 HB yang digunakan kontingen TNI Angkatan Darat menjuarai Australian Armiy of Skill Arms at Meeting (AASAM) tahun 2008-2019.

Bamsoet mengulas selain memproduksi rantis Maung, Pindad juga memproduksi medium tank Harimau dan panser Anoa 6x6. Ia merinci, 80 unit panser Anoa pernah diturunkan dalam sejumlah misi perdamaian dunia PBB, seperti UNAMID di Sudah, UNIFIL di Lebanon, dan MINUSCA di Afrika Tengah.

"Anoa juga telah diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia dan Filipina. Menjadi bukti bahwa produksi Pindad punya kualitas internasional dan disegani dunia. Tak ada alasan bagi Indonesia untuk tak membesarkan PT Pindad," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (7/8/2020).

Dalam upaya mengembangkan industri pertahanan nasional, Bamsoet mendukung langkah Presiden Joko Widodo yang melarang Kementerian Pertahanan mengimpor alat utama sistem senjata (alutsista) yang bisa dipenuhi oleh industri pertahanan dalam negeri.

"Langkah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang memesan kepada PT Pindad berupa 4 miliar butir peluru dengan anggaran mencapai Rp 19 triliun, serta 500 unit Maung dengan anggaran mencapai Rp 500 miliar, sudah tepat. Pemesanan tersebut akan menggairahkan pengembangan industri pertahanan nasional. Dan yang paling penting, uang rakyat dimanfaatkan untuk rakyat, bukan dinikmati untuk impor," tutur Bamsoet.

Mantan Ketua DPR RI itu memaparkan data Stockholm International Peace Research (SIPRI) yang mencatat pengeluaran belanja persenjataan dunia pada tahun 2018 mencapai USD 420 miliar, tertinggi sejak berakhirnya perang dingin. Hal tersebut, terang Bamsoet, dipicu eskalasi ketegangan Amerika Serikat-China yang membuat berbagai negara menguatkan persenjataan militernya.

"Ketegangan Amerika-Tiongkok semakin kuat lantaran pandemi Covid-19. Tak menutup kemungkinan, berbagai negara selain berjuang melawan pandemi juga semakin berjuang menguatkan industri pertahanan. Jika Amerika dan Tiongkok terlibat perang maupun eskalasi militer, Asia Tenggara dipastikan menjadi kawasan paling terdampak," ujar Bamsoet.

Ia menekankan, meskipun Indonesia memang tak mengharapkan terjadinya perang, namun tetap harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Bamsoet lantas menyerukan doktrin umum dalam menjaga kedaulatan yang berbunyi 'Siap perang di kala damai, siap damai di kala perang, siap perang di kala perang'.

"Di Asia, akibat ketegangan Amerika-Tiongkok, industri pertahanan Korea Selatan menuai berkah. Tercatat dalam kurun waktu 2015-2016, mereka berhasil mengekspor persenjataan senilai USD 8,4 miliar. Keberhasilan tersebut bukanlah dibangun dalam semalam, melainkan dibangun serius sejak tahun 1970. Indonesia melalui kerjasama epic Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, sudah memberikan perhatian serius terhadap pengembangan industri pertahanan. Semoga bisa membuahkan hasil maksimal," tutup Bamsoet.

(ega/ega)