Tito Kaget Fatality Rate Bengkulu 8,3%: Testing Corona Harus Lebih Agresif

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 07:38 WIB
Mendagri Tito Karnavian (Andhika-detikcom)
Foto: Mendagri Tito Karnavian (Andhika-detikcom)
Jakarta -

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terkejut dengan informasi yang diberikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang menyampaikan presentase kematian di Bengkulu tertinggi se-Indonesia dengan angka 8,3 persen. Tito pun meminta Gubernur Bengkulu untuk mengatasi ini dengan melakukan testing dengan lebih agresif.

"Saya kaget melihat, bukan saya tidak mengapresiasi apa yang sudah dikerjakan oleh Pak Gubernur Bengkulu secara keseluruhan, tapi saya kaget baca ini case fatality rate pada 34 provinsi kondisi 6 Agustus, saya lihat fatality rate, tingkat kematian, bukan jumlah, tingkat presentase kematian itu tertinggi adalah Bengkulu 8,3 persen," kata Tito pada saat rapat koordinasi pilkada serentak tahun 2020 yang disiarkan secara langsung melalui YouTube Kemendagri RI, Kamis (6/8/2020).

Tito mengaku sudah koordinasikan persoalan dengan Gubernur Bengkulu. Dia menyampaikan kondisi fatality rate Bengkulu meupakan kabar yang kurang baik.

"Saya sudah diskusi itu 'pak gubernur saya dapat informasi yang kurang begitu bagus buat bengklu 8,3 persen tertinggi di Indonesia', ini jumalah yang meninggal 22 (orang) dibandingkan dengan Jakarta, dengan Jawa Timur jauh lebih tinggi sana, tapi rate ini dihitung berdasarkan jumlah kematian dengan mereka yang positif, positif rate," ucapnya.

Perbandingan ini, kata Tito berarti testing yang dilakukan di Bengkulu belum maksimal. Oleh sebab itu, dia pun meminta agar Gubernur Bengkulu lebih masif lagi melakukan testing Corona.

"Jadi kalo semakin testing semakin sedikit kemudian ada yang positif 200-an jumlah yang meninggal 22. Maka ketemulah angka 8,3. Tapi kalau seandainya testingnya lebih banyak, 20 ribu, 30 ribu mungkin, kemudian yang positif ratenya itu misalnya 5.000, yang meninggal 22, 22 per 5 ribu dikali 100 persen, rendah, sebetulnya rendah angka 22 itu, kalau dilakukan testing yang lebih masif, relatif rendah," katanya.

"Pendapat saya testing perlu dilakukan lebih agresif, tidak hanya pasif mereka yang datang ke rumah sakit, batuk-batuk dites PCR, tapi dilakukan juga tes agresif yaitu mendatangi tempat kerumunan di pasar, di terminal," ujar Tito.

Tonton video 'Indonesia Masuk 10 Besar Kasus Sembuh Corona Tertinggi di Asia':

[Gambas:Video 20detik]



(maa/idn)