Melawan Polisi, Pembunuh Wanita di Apartemen Margonda Residence Didor di Kaki

Jehan Nurhakim - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 22:25 WIB
Pembunuh Wanita di Apartemen Depok Getok Kepala Korban Pakai Palu Karet
Pelaku pembunuhan wanita di Apartemen Margonda Residence ditangkap. (Jehan Nurhakim/detikcom)
Depok -

Pelaku pembunuhan wanita di Apartemen Margonda Residence, Faiq Maulana (37), sempat melakukan perlawanan saat ditangkap polisi. Polisi pun menghadiahinya timah panas karena melawan dan berusaha kabur saat hendak ditangkap.

"Saat penangkapan pelaku ditembak kaki bagian kanan karena mencoba melawan dan berusaha kabur," kata Kasatreskrim Polresta Depok Kompol Wadi Sabani saat dihubungi detikcom, Kamis (6/8/2020).

Faiq ditangkap di Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (5/8). Polisi menyita sejumlah barang bukti dalam kasus ini, di antaranya palu karet yang digunakan untuk membunuh korban, 2 utas tali sepatu untuk mengikat korban, handphone, cincin, motor Honda Beat, dan lakban.

"Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 340 KUHP dan/atau 338 KUHP dan/atau 365 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati," tutur Wadi.

Pembunuhan Astrid Oktaviani (37) bermula ketika korban dan pelaku bertemu di Apartemen Margonda Residence. Pelaku mengaku awalnya bertemu dengan korban di apartemen untuk melepas rasa rindu. Korban dan pelaku diketahui menjalin hubungan asmara.

Dalam pertemuan tersebut, pelaku juga ingin membicarakan soal hubungan mereka. Pelaku menuding korban telah memiliki hubungan dengan lelaki lain.

"Mau ngomongin soal hubungan kita, karena dia baru jalan dengan cowok yang baru," tutur Faiq di Polresta Depok.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolresta Depok Kombes Azis Ardiansyah menjelaskan motif pembunuhan tersebut. Azis menyebut pelaku membunuh korban karena terbakar api cemburu.

"Spontan saat itu melakukan kekerasan walaupun alat-alatnya memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Artinya, sudah memiliki kejengkelan sangat lama kepada korban, sehingga timing tertentu dia segera mengeksekusi korban. Artinya, cemburu dan asmara," kata Kombes Azis.

(mea/mea)