Kolom Hikmah

Menuju Kemajuan Negeri

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 07:32 WIB
Aunur Rafiq
Foto: Istimewa
Jakarta -

Saya kutip dalam kata pengantar sebagai penggalan dari Sheikh Mohd. Iqbal pada buku Misi Islam ( The Mission Of Islam ), "Saya juga ingin memberikan kesan kepada para pembaca bahwa Islam merupakan agama kemajuan dan bahwa, apabila dianut secara jujur, ia tak akan menghalangi kemajuan manusia."


Kemajuan peradaban suatu bangsa tiada terlepas dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketahuilah, banyak ayat Al-Quran yang menegaskan keutamaan ilmu. Di antaranya Allah Swt berfirman dalam Al Quran Surat Al-Mujadalah ayat 11.

"Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di antara kalian dan orang yang dikaruniai ilmu beberapa derajat."

Ibn Abbas r.a. dalam sebuah kesempatan berkomentar, "Kedudukan orang berilmu 700 derajat lebih tinggi daripada orang beriman tetapi tidak berilmu. Jarak untuk menempuh setiap dua derajat mencapai lima ratus tahun perjalanan."

Ayat dan komentar Ibn Abbas r.a. merupakan daya tarik bagi umat Islam untuk mendalami dan menguasai ilmu sesuai minat dan bidangnya. Berkemampuan atas bidang-bidang ilmu akan membawa kemajuan peradaban umat itu sendiri, apalagi dalam situasi perubahan yang makin cepat saat-saat mendatang.

Apalagi Seorang pemimpin tentu tiada yang tak berilmu, berkemampuan sebagai administrator, mempunyai kecakapan dalam memilih pembantunya sebagai orang-orang pilihan dan terbaik, guna menjalankan roda pemerintahan secara efisien serta dengan kesederhanaan. Dengan demikian akan melepaskan rakyat dari kebangkrutan material serta kemiskinan spiritual.

Sejarah telah membuktikan bahwa umat Islam pernah mencapai kejayaan saat kekhalifaan dipimpin Bani Abbasiyah. Di mana pada saat itu betul-betul Iptek telah dikuasainya. Beberapa tokoh ahli Islam pada zamannya dalam bidang seperti:

1. Al-Zahrawi ( 325 - 404 H ), ahli bedah paling masyhur di dunia Islam. Karya-karyanya diterjemahkan ke bahasa latin dan berbagai bahasa lainnya.
2. Ibnu Sina ( 370 - 428 H ), filsuf, dokter, ahli kimia, pakar matematika, sastrawan. Karya termasyhur berjudul Al-Qonun fi al- Thibb.
3. Ibnu al-Baythar ( 594 - 647 H ), pakar ilmu tumbuh-tumbuhan, rumput obat dan farmasi.
4. Ibnu Bathuthah ( 704 - 779 H ), pengembara dan ahli geografi.

Pada tahun 2030, negeri ini akan mengalami bonus demografi, yang berarti jumlah penduduk usia produktif lebih besar dari jumlah penduduk non produktif. Ada kesempatan waktu 10 tahun untuk mencetak kaum teknokrat. Sehingga pada saatnya mereka ini ikut berperan dalam menyiapkan iklim usaha yang menggairahkan.

Sebagai wadah para generasi muda berkarya. Negeri ini mempunyai plasma nutfah terbesar dunia setelah Brazilia, artinya potensi pengembangan produk kesehatan dari herbal sangat besar. Kita berharap munculnya Ibnu al-Baythar dari generasi muda negeri ini. Penemuan-penemuan baru yang tentunya akan lebih mengefisienkan mesin produksi dan akan mendorong proses ekonomi dengan cost efisien.

Pada tahap ini, limpahan hasil produksi akan bisa bersaing dengan produk negara-negara tetangga. Saat itu negeri ini akan menambah cadangan devisa dari hasil ekspor atas produk-produknya. Oleh karenanya, ayo para generasi muda, mulailah berlaku inovatif dan sumbanglah negeri ini dengan temuan-temuan baru.

Semoga negeri ini yang jumlah umat Islam mencapai 80 persen bisa memberikan bukti sebagai negeri yang menuju kemajuan.

Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016.


*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)