LP Ma'arif NU Klarifikasi, Tetap Tidak Gabung Organisasi Penggerak Kemendikbud

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 19:17 WIB
Logo Muktamar NU
Ilustrasi logo PBNU (Foto: dok. Situs Resmi NU)
Jakarta -

Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif NU Arifin Junaidi menyangkal pernyataan Katib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf terkait Program Organisasi Penggerak (POP). Arifin menegaskan lembaganya tetap tidak bergabung ke POP hingga program itu direvisi.

"Sampai saat ini, LP Ma'arif NU tetap pada pendiriannya untuk tidak gabung ke POP sampai ada revisi komprehensif atas konsep POP Kemendikbud," kata Arifin dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (6/8/2020).

Arifin menjelaskan LP Ma'arif NU adalah lembaga yang dikoordinasikan Pengurus Tanfidziyah NU. Menurutnya, keputusan LP Ma'arif akan mengikuti arahan dari Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.

"Secara struktural, LP Ma'arif NU adalah lembaga di lingkungan NU yang berada di bawah koordinasi langsung pengurus Tanfidziyah NU. Karena itu, LP Ma'arif NU akan ikuti dan patuhi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU," ujar Arifin.

Lebih lanjut, Arifin mengatakan menentang pernyataan Katib Am PBNU KH Yahya Staquf, yang menyebut NU akan bergabung dengan POP. Dia mengaku tidak tahu terkait adanya keputusan itu.

"Berkaitan dengan pemberitaan berbagai media tentang pernyataan Katib Am PBNU KH Yahya Staquf bahwa NU tetap berada di POP, Ketua LP Ma'arif NU Z Arifin menyatakan tidak tahu-menahu hal itu," ucap Arifin.

Berikut pernyataan sikap dari Ketua LP Ma'arif NU Arifin Junaidi:

1. LP Ma'arif NU PBNU meminta kepada Kemendikbud untuk mematangkan konsep POP dan menunda pelaksanaannya tahun depan. LP Ma'arif NU PBNU mempertimbangkan untuk bergabung dalam POP tahun depan setelah mempelajari dan mencermati revisi konsep POP.

2. Apabila Kemendikbud memaksakan POP dilaksanakan tahun ini maka LP Ma'arif NU PBNU menyatakan tidak gabung dalam POP.

3. Tahun ini LP Ma'arif NU PBNU tetap melaksanakan peningkatan kapasitas kepala sekolah dan guru serta inovasi pendidikan secara mandiri. Karena dilaksanakan secara mandiri maka LP Ma'arif NU PBNU minta kepada Kemendikbud untuk tidak mencantumkan LP Ma'arif NU PBNU dalam daftar penerima POP tahun ini.

Diberitakan sebelumnya, Katib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf melakukan pertemuan dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan(Mendikbud) Nadiem Makarim siang tadi. Pertemuan dilakukan untuk menyampaikan keputusan NU tetap ikut serta dalam Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud.

"Ini silaturahmi untuk mengurai kekusutan komunikasi yang sempat terjadi. Dalam suasana prihatin akibat pandemi dan masyarakat sangat membutuhkan jalan keluar dari berbagai kesulitan, sangat tidak elok kalau kontroversi yang tidak substansial dibiarkan berlarut-larut," kata Yahya melalui keterangan tertulis, Kamis (6/8).

Pertemuan tersebut dilakukan atas persetujuan Rais Am dan Ketua Umum PBNU Said Aqil. Keputusan keikutsertaan tersebut diambil pada saat rapat di PBNU, Selasa (4/8), setelah adanya klarifikasi mengenai dua hal dari Mendikbud Nadiem.

"Memang sudah ada klarifikasi dari Mendikbud sebelumnya bahwa dengan POP ini sebenarnya Kemendikbud hanya bermaksud membeli model inovasi dari berbagai pihak yang menawarkan gagasan," ujarnya

"Yang diukur adalah kelayakan gagasan dan perencanaan eksekusinya. Pihak mana pun bisa ikut tanpa harus bergantung pada ukuran organisasi atau keluasan konstituennya," sambungnya

(aik/aik)