Pakai Dana BOS, SMP di Makassar Beli 428 Gawai untuk Siswa Belajar Daring

Ibnu Munsir - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 15:56 WIB
Warung kopi di Pondok Aren, Tangerang Selatan, sediakan WiFi gratis bagi pelajar yang hendak belajar online. Akibatnya, warung itu ramai didatangi oleh siswa SD
Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)
Makassar -

SMP Negeri 6 Makassar membeli 428 gawai untuk mendukung proses belajar siswa melalui sistem daring karena pandemi virus Corona (COVID-19). Dana sebesar Rp 875 juta dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) digunakan untuk membeli gawai tersebut.

"Jadi uangnya masuk di rekening SMPN 6 itu 875 juta itu diperuntukkan harus ini, harus diperuntukkan untuk 428 unit tablet," ujar Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Makassar, Munir, di Jalan Ahmad Yani, Rabu (5/8/2020).

Munir memastikan 428 gawai yang terbeli akan diberikan kepada siswa untuk mengikuti proses belajar daring dari rumah.

"Itu diperuntukkan untuk siswa-siswa kita dalam rangka belajar di rumah apalagi sekarang ini di tengah pandemi COVID-19," tegasnya.

Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Makassar, Munir (Ibnu Munsir-detikcom).Kepala SMP Negeri 6 Makassar, Munir (Ibnu Munsir/detikcom)

Lebih lanjut Munir menyebutkan, dana yang digunakan ialah dana BOS Kinerja. Selain untuk gawai, dana Rp 875 juta itu dianggarkan untuk membeli komputer, laptop, penyimpangan eksternal, hingga kabel perangkat penyambung.

"Kemudian ada satu unit komputer fisik ada satu unit laptop ada satu unit penyimpanan eksternal dan kabel-kabel itu penghubung itu jadi jumlah keseluruhan," jelasnya.

Pemkot Makassar hingga saat belum memberlakukan sekolah tatap muka untuk para peserta didik. Pj Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin menilai kondisi pandemi virus Corona (COVID-19) di Makassar masih berisiko bagi peserta didik.

"Ini masalahnya anak-anak kita tidak boleh didekatkan dengan risiko yang sangat berbahaya dengan mereka," kata Rudy di gedung DPRD Kota Makassar, Jalan AP Pettarani, Selasa (4/8/2020).

Rudy mengatakan pihaknya masih menunggu izin dan petunjuk dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberlakukan sekolah tatap muka.

"Mereka masih sangat berisiko, belum terpikirkan untuk itu. (Pertimbangan utama) masih COVID tidak ada alasan lain, kita tunggu petunjuk dari Kementerian Pendidikan-Kebudayaan," imbuhnya.

(nvl/nvl)