3 Aktivis Dijemput, Walhi Kaltim Teriak Pembungkaman Bermodus Tes Swab

Yovanda Izabella - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 16:23 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi virus Corona. (Edi Wahyono-detikcom)
Samarinda -

Penjemputan 3 aktivis di Kalimantan Timur (Kaltim) oleh petugas penanganan COVID-19 setempat jadi sorotan. Para aktivis merasa penjemputan itu bertujuan membungkan kekritisan mereka. Tes swab yang dilakukan sebelum penjemputan dinilai kedok belaka.

Tiga aktivis yang dijemput adalah Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Timur (Kaltim) Yohana Tiko dan 2 orang anggota LBH Samarinda, Fahul Hadi dan Bernard. Mereka mengaku dijemput petugas Gugus Tugas Covid dan BPBD Kota Samarinda setelah mengikuti tes swab.

Kejadian itu sempat menghebohkan warga Jalan Gitar Samarinda. Pasalnya petugas membawa serta kepolisian dan banyak warga yang berkerumun meminta ketiga aktivis dikeluarkan.

"Semua terasa ganjil, ini merupakan pembungkaman gaya baru dengan menggunakan tes swab COVID-19. Kelompok-kelompok tertentu menjadikan swab sebagai ladang kriminalisasi dan pembungkaman aktivis HAM," kata Tiko dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/8/2020).

Tito menjelaskan kronologi penjemputan paksa itu bermula pada Rabu (29/7/2020) pukul 16.00 WITA. Ketika itu, lima orang petugas yang mengaku berasal dari salah satu dinas di Kota Samarinda mendatangi kantor LSM Kelompok Kerja (POKJA) 30, kemudian berlanjut ke kantor Walhi Kaltim yang bersebelahan. Kantor LBH Samarinda ada di tempat yang sama.

Petugas itu beralasan melakukan random sampling. Sejumlah aktivis dari dua LSM ini diminta mengikuti tes swab. Para aktivis itu mengikut saja sebagai bentuk partisipasi membantu memutus mata rantai COVID-19.

Keesokan harinya, Kamis (30/7) sekitar pukul 14.30 Wita, sekitar 15 orang petugas kesehatan datang ke kantor POKJA 30 dan Walhi Kaltim menyemprotkan desinfektan. Lalu pada Jumat (31/7) sekitar pukul 17.00 WIB, ada beberapa orang dari salah satu dinas di Samarinda yang mendatangi kantor Walhi. Mereka mengatakan ada tiga orang yang hasilnya positif COVID-19 dan harus dikarantina di rumah sakit.

"Banyak kejanggalan di sini. Pertama mereka tidak menggunakan APD lengkap. Katanya random sampling, tapi hanya dua kantor ini yang didatangi," ujarnya.

Ketiga aktivis lalu meminta bukti hasil swab dari laboratorium yang menunjukkan bukti positif. Namun, menurut Tiko, petugas tidak menunjukkannya.

"Berulang kali diminta, mereka malah memaksa kami dengan menghadirkan beberapa warga. Kami akhirnya sepakati ikut ke RS agar tidak terjadi keributan, katanya.

Sesampainya di RS, lanjut dia, mereka malah dibiarkan terlantar di luar dan tidak diberikan ruangan selama berjam-jam. Mereka juga pada akhirnya tidak diisolasi.

"Kami minta lagi hasil swab, RS bilang tanya sama yang bawa, kami tidak tahu soal itu. Kami hanya mendapat pelimpahan saja. Mereka malah pergi semua dan kami ditelantarkan di parkiran rumah sakit," ujar Tiko.

Selanjutnya
Halaman
1 2