Kolom Hikmah

Akhlak Mulia Sang Khalifah: Abu Bakar

Aunur Rofiq - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 07:45 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Prestasi Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq sangat gemilang. Abu Bakar antara lain telah mengembalikan kembali menjadi muslim para kaum yang murtad sepeninggal Rasulullah, memperluas pengaruh ke beberapa wilayah dengan panglima Khalid bin Walid, juga dimulainya penyusunan mushaf Al-Qur'an. Sebab sepeninggal Rasulullah SAW banyak sahabat penghafal Al-Qur'an yang gugur saat perang Yamamah pada tahun 12 H. Ketika itu Abu Bakar memberi kepercayaan pada Zayd ibn Tsabit.

Abu Bakar adalah anugerah sesudah dan sebelum Khalifah. Meski demikian, ia tidak menganggap dirinya pantas menerima itu semua. Maka kita simak riwayat di bawah ini :


Pada suatu hari Uyaynah ibn Hashim dan Aqra ibn Habis menghadap Abu Bakar. " Wahai Khalifah Rasulullah. Di tempat kami ada sebidang tanah gersang dan tidak satupun rumput tumbuh di atasnya. Sudikah engkau memberikannya kepada kami, akan kami olah dan menanaminya?" kata keduanya kepada Khalifah Abu Bakar.


Kemudian Abu Bakar memberikan surat penyerahan hak dan membubuhkan persetujuan Umar bin Khattab, meski saat itu Umar tidak hadir.

"Pergilah menemui Umar. Mintalah persetujuan darinya," perintah Abu Bakar pada keduanya.

Setelah Umar membaca surat tersebut, Umar meludahinya dan menghapus isi surat tersebut. Umar berkata pada keduanya," Dulu, Rasulullah berbuat baik kepadamu karena Islam masih lemah. Sekarang Allah sudah menguatkan Islam. Pergilah kalian berdua. Allah tidak memerlukan kalian lagi, meskipun kalian memerlukan-Nya."

Dengan masih mengomel keduanya pergi menemui Abu Bakar," Demi Allah, kami tidak tahu, Engkau atau Umar yang Khalifah?"

"Dia! Jika dia mau," jawab Abu Bakar singkat.

Tidak lama kemudian Umar menemui Abu Bakar. "Katakan kepadaku tentang tanah yang engkau berikan kepada kedua orang ini. Apakah itu milik pribadimu atau milik umat Islam?" tanya Umar.

Abu Bakar menjawab, " Milik seluruh umat Islam."

Umar bertanya lagi," Lalu, mengapa engkau memberikannya kepada kedua orang ini tanpa persetujuan umat Islam?"

"Aku sudah meminta pendapat orang-orang sekitarku, dan mereka setuju," jawab Abu Bakar.

Umar menukas, "Tapi, sudahkah engkau meminta pendapat seluruh umat Islam, lalu mereka menyetujui?"

Kemudian Abu Bakar berkata, "Dulu sudah aku katakan kepadamu, engkaulah yang lebih kuat memikul jabatan ini, tapi engkau sendiri yang memaksaku!"

Begitu akrabnya hubungan kedua sahabat Rasulullah ini, meski dalam hal-hal tertentu mereka sepertinya bisa saling mengingatkan meski dengan pembicaraan yang "hangat". Abu Bakar beranggapan jabatan hanya sebagai wasilah dalam meneruskan perjuangan Rasulullah. Bukan jabatan dipegang erat dan dipertahankan dengan segala cara.


Dengan entengnya ketika Abu Bakar ditanya oleh kedua orang yang minta tanah gersang tersebut, " Engkau atau Umar yang Khalifah"

"Dia, jika dia mau." Jawabnya. Ini jelas dan menunjukkan bahwa beliau menyadari sepenuhnya bahwa jabatan itu mengandung konsekwensi tanggung jawab. Sebab tanpa tanggung jawab maka jabatan tersebut kehilangan kepercayaan.

Atas jabatan sebagai Khalifah bukan diraih melalui debat visi misi dan kampanye keliling daerah. Namun Beliau menerima amanah sebagai Khalifah. Coba kita amati sepenggal pidato Beliau.

"Amma Ba'd. Wahai sekalian manusia. Aku diserahi tugas sebagai Khalifah, padahal aku bukan orang terbaik di antara kalian. Untuk itu, jika aku melakukan kebaikan maka bantulah, dan jika aku melakukan kesalahan maka ingatkanlah. Jujur itu amanah, sedang dusta itu khianat."

Dari pidato tersebut menunjukkan Dia bukan orang terbaik, tidak sombong dan tidak ujub. Dan minta rakyatnya membantunya jika berbuat untuk kebaikan bersama dan minta diingatkan jika melakukan kesalahan. Dalam kehidupan saat ini masih jarang bisa menemukan pemimpin yang bersikap seperti Abu Bakar.

Kalau kita ringkas sikap mulia Beliau adalah : membuka diri jika ada kesalahan, minta diingatkan, bahwa jabatan hanyalah wasilah dan jabatan bukan menjadi tujuan utama. Semoga negeri ini akan muncul Pemimpin yang berkarakter sejati seperti Abu Bakar.

Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016.


*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)