Ditegur Gegara Rambut Pirang, Pasha Minta Maaf: Mendagri Tito Guru Kami

M Qadri - detikNews
Sabtu, 01 Agu 2020 19:05 WIB
Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said atau Pasha Ungu mencukur rambut usai kontroversi rambut pirang.
Rambut Wawalkot Palu Sigit Purnomo alias Pasha dicukur setelah rambut pirangnya jadi kontroversi. (Foto: dok. istimewa)
Palu -

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian sempat menegur Sigit Purnomo alias Pasha soal rambut pirang Wakil Wali Kota Palu tersebut. Pasha meminta maaf atas perbuatannya.

"Mendagri Bapak Tito adalah guru, panutan, dan pemimpin kami, khususnya di aparatur sipil negara (ASN). Atas adanya teguran ini, tentunya harus meminta maaf dan itu saya sudah berkomunikasi langsung dan sudah mendengarkan arahan langsung. Dengan adanya teguran ini, saya harus mengucapkan banyak terima kasih karena sudah diperhatikan di tengah kesibukan Bapak Tito, apalagi persoalan gaya rambut," ujar Pasha kepada detikcom, Sabtu (1/8/2020).

Pasha kini sudah mencukur rambutnya menjadi plontos. Pasha siap mematuhi arahan Mendagri Tito.

"Jadi saya kira tidak ada lagi argumentasi yang harus saya sampaikan kecuali mematuhi pendapat atau arahan dari Bapak Mendagri," kata Pasha.

Sebelumnya, Tito Karnavian turut berkomentar soal Pasha yang mengecat rambutnya jadi warna pirang. Menurut dia, seharusnya pejabat negara memberi contoh.

Tonton juga 'Pasha 'Ungu' Cukur Gundul Karena Rambut Pirangnya Jadi Kontroversi':

[Gambas:Video 20detik]

"Belum ada aturannya, tapi sebaiknya sebagai pejabat negara memberikan contoh etika yang baik," kata Tito kepada wartawan di kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (31/7).

Tito mengatakan seorang pemimpin harus bertindak selayaknya negarawan, termasuk soal penampilan. Di lembaga pendidikan birokrat, seperti IPDN, sudah diajarkan agar memiliki penampilan yang baik.

"Saya paham mungkin beliau (Pasha) dari latar belakang seni, jiwa beliau itu. Tapi kan beliau juga harus bisa menempatkan antara sebagai seniman dengan sebagai birokrat yang memiliki kode etik, kultur tersendiri sebagai birokrat," ujar Tito.

(dkp/zap)