Apresiasi Polri yang Tangkap Djoko Tjandra, Tito: Prestasi Luar Biasa

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Jumat, 31 Jul 2020 12:55 WIB
Mendagri Tito Karnavian
Tito Karnavian (Muslimin Abbas/detikcom)
Jakarta -

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengapresiasi kinerja Polri yang telah berhasil menangkap buron hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra di Malaysia. Tito menilai penangkapan tersebut merupakan suatu prestasi yang luar biasa dari Polri.

"Yang jelas saya menyampaikan apresiasi kepada Polri, Pak Kapolri, Pak Kabareskrim dan timnya, yang mampu menembus--apa namanya--hambatan-hambatan birokrasi maupun hambatan-hambatan hukum antarnegara. Itu saya kira prestasi luar biasa," kata Tito kepada wartawan di kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (31/7/2020).

Mantan Kapolri ini menuturkan salah satu hal yang menjadi hambatan penangkapan Djoko Tjandra yang jadi buron selama ini adalah birokrasi antarnegara. Tito menyampaikan, meski ada perjanjian ekstradisi, ada beberapa unsur lainnya juga yang menghambat birokrasi.

"Iya, di antaranya itu. Saya kira birokrasi antarnegara (salah satu hambatan). Meskipun ada perjanjian ekstradisi, kan ada unsur-unsur, mungkin ada unsur-unsur nonhukum di balik itu. Jadi saya selaku Mendagri, jujur, menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada teman-teman di Polri, Bapak Kapolri, Kabareskrim dan tim. Bagi saya, ini adalah prestasi mereka yang luar biasa," tuturnya.

Untuk diketahui, terpidana kasus korupsi hak tagih Bank Bali Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia. Buron negara itu diterbangkan ke Indonesia dan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Kamis (30/7) malam.

Penangkapan Djoko buah kerja sama Polri dengan Polis Diraja Malaysia (PDM). Otoritas negeri jiran itu memberi informasi posisi Djoko pada Kamis, 30 Juli 2020, siang. Operasi penangkapan Djoko Tjandra dilakukan dengan diam-diam tanpa ada yang tahu.

Menko Polhukam Mahfud Md mengatakan proses penangkapan berlangsung sejak 20 Juli 2020 oleh tim yang dipimpin Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo. Ia menyebut yang tahu soal operasi ini adalah dirinya dan Komjen Listyo, Presiden Joko Widodo (Jokowi), serta Kapolri Jenderal Idham Azis.

Mahfud mengatakan Komjen Listyo telah siap melakukan operasi sesuai yang diskenariokan. Lalu, pada 20 Juli malam, Komjen Listyo langsung berangkat ke Malaysia untuk memulai operasinya.

"Tetapi, sebelum rapat dimulai, rapat itu saya rencanakan jam 5.30 sore, tapi siangnya sekitar jam 11.30 Kabareskrim datang ke kantor saya, melapor polisi siap melakukan langkah-langkah dan sudah punya skenario yang harus dirahasiakan, sehingga yang tahu pada waktu itu, menurut Kabareskrim, hanya Kapolri, Presiden, dan Menko Polhukam, dan malam itu juga Kabareskrim berangkat ke Malaysia tanggal 20 itu," kata Mahfud, sebelumnya.

(elz/ear)