Round-Up

Akhir 11 Tahun Pelarian Djoko Tjandra

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 31 Jul 2020 07:14 WIB
Petugas kepolisian membawa buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra (kedua kiri) yang ditangkap di Malaysia setibanya di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (30/7/2020). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.
Petugas kepolisian membawa buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra (kedua kiri) yang ditangkap di Malaysia setibanya di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. (Foto: NOVA WAHYUDI/Antara)
Jakarta -

11 Tahun pelarian Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra berakhir. Sejak tahun 2009 kabur, kini buronan kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali itu berhasil ditangkap.

Perkara korupsi cessie Bank Bali yang melibatkan Djoko Tjandra mulai diusut pada tahun 1999 oleh Kejaksaan Agung sesuai dengan laporan dari Bismar Mannu, Direktur Tindak Pidana Korupsi kepada Jaksa Agung. Djoko Tjandra ditahan oleh Kejaksaan.

Di tahun 2000, Djoko Tjandra menjadi tahanan kota kejaksaan, dan kembali menjadi kembali ditahan oleh kejaksaan. Singkat cerita, tahun 2009 Djoko mangkir dari panggilan Kejaksaan untuk dieksekusi. Djoko diberikan kesempatan 1 kali panggilan ulang, namun kembali tidak menghadiri panggilan Kejaksaan, sehingga Djoko dinyatakan sebagai buron.

Djoko diduga telah melarikan diri ke Port Moresby, Papua Nugini, menggunakan pesawat carteran sejak 10 juni 2009 atau sehari sebelum vonis dibacakan oleh MA. Sejak tahun 2009 itu, kasus Djoko Tjandra tidak begitu kentara.

Baru di tahun 2012, Wakil Jaksa Agung saat itu, Darmono menyatakan otoritas pemerintah Papua Nugini memberikan kewarganegraan kepada Djoko Tjandra, sehingga eksekusi terhadapnya mengalami kesulitan. Permintaan DPO dari Sekretaris NCB Interpol Indonesia terhadap Joko Soegiarto Tjandra pada 12 Februari 2015. Ditjen Imigrasi menerbitkan surat perihal DPO kepada seluruh kantor Imigrasi ditembuskan kepada Sekretaris NCB Interpol dan Kementerian Luar Negeri.

Limat tahun sejak 2015 itu, Djoko Tjandra tidak terendus. Barulah Juni 2020 Djoko Tjandra tiba-tiba bikin heboh. Djoko Tjandra ketahuan mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dari situ kemudian terungkap fakta-fakta lain.

5 Mei 2020

Ada pemberitahuan dari Sekretaris NCB Interpol bahwa dari red notice atas nama Joko Soegiarto Tjandra telah terhapus dari sistem basis data terhitung sejak tahun 2014 karena tidak ada permintaan lagi dari Kejaksaan Agung RI.

13 Mei 2020

Berdasar dari pemberitahuan Sekretaris NCB Interpol, Ditjen Imigrasi menindaklanjuti dengan menghapus nama Joko Soegiarto Tjandra dari Sistem Perlintasan.

8 Juni 2020

Djoko Tjandra diketahui berada di Indonesia. Dia ditemani kuasa hukum lainnya, Anita Kolopaking, membuat e-KTP dengan nama Joko Soegiarto Tjandra.

Setelahnya, Djoko Tjandra menuju PN Jaksel untuk mengurus pengajuan PK.

Tonton video 'Kabareskrim: Jokowi Perintahkan Cari Djoko Tjandra di Mana Pun Berada!':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3