Begini Analisis tentang Klaster Corona DKI: Permukiman hingga Perkantoran

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 29 Jul 2020 11:54 WIB
Analisis data klaster di DKI Jakarta (Foto: Screenshot YouTube BNPB)
Foto: Analisis data klaster di DKI Jakarta (Foto: Screenshot YouTube BNPB)
Jakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 merilis analisis data klaster di DKI Jakarta. Kasus positif virus Corona (COVID-19) terbanyak berasal dari Klaster Permukiman atau transmisi lokal.

"Jadi kalau kita lihat sebenarnya paling banyak itu lokal transmisi dari permukiman. Yang tadi itu dari komunitas hasil contact tracing ini kebanyakan di sana. Ada 283 klaster bertemu klaster dalam satu tempat satu wilayah yang kurang lebih sama," kata tim pakar Satgas COVID-19 Dewi Nur Aisyah dalam YouTube BNPB, Rabu (29/7/2020).

Dewi menjelaskan data tersebut merupakan kasus positif COVID-19 yang masih aktif. Data diambil dari tanggal 4 Juni 2020.

Klaster terbanyak kedua berasal dari fasilitas kesehatan. Dalam data yang ditampilkan, ada 124 Klaster Fasilitas Kesehatan dengan 799 kasus positif COVID-19.

Kemudian, disusul Klaster Pasar Rakyat. Dewi mengungkapkan ada 107 Klaster Pasar Rakyat dengan 555 kasus positif COVID-19.

"Sudah 173 pasar diperiksa dengan lebih dari 11 ribu orang. Dan ternyata dari 11 ribu orang ini ditemukan 555 orang di 107 pasar," ujarnya.

Berikutnya adalah Klaster Perkantoran. Dewi mengatakan, saat ini ada 90 Klaster Perkantoran dengan 459 kasus.

"Kalau di DKI Jakarta sampai dengan 28 Juli ini ditemukan 90 klaster dengan total kasus 459. Ini memang angkanya bertambahnya kalau kita lihat hampir 10 kali lipat sebelum masa PSBB memang hanya 43, tapi ketika sudah PSBB transisi ini meningkat menjadi 459. Jadi kurang lebih bertambah 416 sekitar 9 kali lebih tinggi," papar Dewi.

Dewi pun meminta perkantoran untuk selalu mematuhi protokol kesehatan. Menurutnya, semua orang harus selalu waspada akan bahaya COVID-19 di manapun berada.

"Kalau kita melihat kondisi saat ini, kalau perusahaan yang masih bisa WFH, WFH," katanya.

Klaster terakhir adalah Klaster Rumah Ibadah. Dewi menjelaskan klaster ini terdiri dari beberapa kegiatan, baik di masjid, gereja hingga acara keagamaan.

Dewi memaparkan, ada 9 Klaster Rumah Ibadah dengan 114 kasus. Klaster gereja ada 3 dengan 29 kasus, sementara klaster masjid ada 3 klaster dengan 11 kasus.

Selain itu, ada juga 1 klaster asrama pendeta dengan 41 kasus. Klaster pesantren ada 1 dengan 4 kasus dan tahlilan ada 1 klaster dengan 29 kasus.

"Di tahlilan, ini cuma 1 klaster tapi nyebar ke 29 orang. Jadi ini yang harus kita ingatkan nih, jadi kalau ada kegiatan sosial, berkumpul bersama misalnya arisan, kumpul ibu PKK, pengajian, tahlilan, ini tetap dipastikan diterapkan protokol kesehatan. Sudah ada buktinya kok," tutur Dewi.

(mae/fjp)