LPDB Berpotensi Salurkan Dana Bergulir ke Koperasi Ternak di Lampung

Abu Ubaidillah - detikNews
Minggu, 26 Jul 2020 21:32 WIB
LPDB
Foto: LPDB-KUMKM
Jakarta -

Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM Supomo menyebut pihaknya berpotensi membiayai permodalan dana bergulir Koperasi Produksi Ternak (KPT) Maju Sejahtera (MS). KPT MS merupakan koperasi pembiakan sapi dengan skema bagi hasil, pengadaan, dan perdagangan sapi, produksi dan penjualan pakan, pinjaman sapi, dan penjualan produk limbah.

"Kami masih lihat-lihat dan survei terhadap eksistensi koperasinya. Kita juga masih menggali apa sebetulnya kebutuhan mereka. Dan mereka pun belum mengajukan proposal pembiayaan dana bergulir," ujar Supomo dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2020).

Hal itu disampaikan Supomo saat mendampingi Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam kunjungan ke sentra peternakan sapi di Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (25/7/2020. Supomo mengatakan dari hasil dialog dengan para KPT MS ada dua hal yang menjadi kebutuhan koperasi, yaitu kebutuhan akan ketersediaan pakan ternak dan meningkatkan populasi sapi.

"Dalam dialog tadi yang juga dihadiri perwakilan dari Bank Indonesia (BI) Lampung disebutkan bahwa perkuatan permodalan untuk para peternak sapi meningkatkan populasi sapi, lebih tepat melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR)," jelas Supomo.

Supomo juga menyebut LPDB KUMKM dapat memperkuat permodalan untuk pengadaan ternak. Menurutnya, jika peternak sapi beli pakan ternak sendiri-sendiri, itu kurang efisien. Maka, pembelian bisa dilakukan melalui koperasi dan di situ LPDB berpotensi menggulirkan dana bergulir.

Pada kesempatan yang sama, Ketua KPT MS Jaya Suhadi mengungkapkan para anggotanya sangat ingin memiliki sapi secara kredit, hanya saja koperasi memiliki kesulitan permodalan.

"Koperasi yang membutuhkan sekitar 100 ekor sapi. Yang jika ditotalkan dalam rupiah berarti sebesar Rp 2 miliar dengan masa tenor atau lamanya angsuran kredit selama 2-3 tahun," kata Jaya.

Apabila dihitung-hitung, lanjut Jaya, satu peternak akan membayar cicilan Rp 700 ribu - Rp 1 juta per bulan. Besaran cicilan ini tidak memberatkan peternak. Namun menurutnya kebutuhan 100 ekor sapi itu tidak serta merta langsung sejumlah itu, melainkan bertahap dengan rincian 20 ekor sapi setiap bulannya.

"Satu peternak setidaknya harus memiliki 10-13 ekor sapi. Namun, saat ini, para peternak yang menjadi anggota koperasi baru memiliki 1-2 ekor sapi," pungkas Jaya.

(akn/ega)