Apa Kaitan Amfetamin dan Dugaan Bunuh Diri Yodi Prabowo? Ini Kata Polisi

Yogi Ernes - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2020 18:49 WIB
Polda Metro Jaya menggelar konferensi pers di Mapolda Jaya, Jakarta, Sabtu (25/7/2020) terkait kematian editor Metro TV, Yodi Prabowo. Polda Metro Jaya menyatakan kematian Yodi Prabowo karena bunuh diri dengan cara menusukkan pisau ke perut dan leher. Berikut sejumlah barang bukti yang dipamerkan ke jurnalis.
Barang bukti dalam kasus kematian Yodi Prabowo (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Polisi mengungkap temuan kandungan amfetamin hingga pemeriksaan Yodi Prabowo di dokter spesialis kulit dan kelamin. Lalu apa hubungannya dengan kematian editor Metro TV yang diduga polisi akibat bunuh diri?

Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat menjelaskan, analisis terhadap transaksi keuangan, ditemukan bahwa Yodi Prabowo pernah memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit dan kelamin di RSCM.

"Pertanyaan pertama tentang analisis transaksi keuangan. Dengan gunakan debit BCA yang ada pada miliknya melakukan pembayaran ke RSCM. Pertanyaannya untuk apa uang itu? Uang itu dilakukan untuk pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan konsultasi ke dokter. Dokter apa? Adalah dokter ahli penyakit kelamin dan kulit," jelas Tubagus dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (25/7/2020).

Tubagus melanjutkan Yodi Prabowo melakukan pemeriksaan diri ke dokter spesialis kulit dan kelamin di RSCM karena punya keluhan.

"Apa yang dilakukan? Pengecekan. Kenapa dilakukan pengecekan? Dia pasti ada keluhan, kemudian dia melakukan konsultasi ke dokter, dokternya ahli kulit dan kelamin. Setelah itu, dia lakukan konsultasi dan disarankan untuk lakukan pengecekan," katanya.

Ia melanjutkan, pengecekan dilakukan untuk mengetahui apakah Yodi Prabowo terkena penyakit kelamin. Namun hasil lab tersebut belum sempat diambil oleh Yodi Prabowo hingga menjelang akhir hayatnya.

"Ada beberapa pengecekan, salah satunya atas kehendaknya sendiri melakukan pengecekan positif atau tidaknya HIV. Tetapi hasil itu sampai korban meninggal dunia belum sempat diambil," katanya.

Tubagus kemudian mengungkap hasil pemeriksaan di dokter spesialis kulit dan kelamin itu ada kaitannya dengan peristiwa kematian Yodi Prabowo, yang diduga bunuh diri. Polisi menduga hal ini mengakibatkan Yodi Prabowo depresi.

"Apa ini terkait dengan adanya dugaan bunuh diri? Sangat terkait. Kaitannya dengan kemungkinan munculnya depresi. Tapi ini dijelaskan oleh ahli di bidang psikologi forensik. Walaupun ada beberapa yang sudah kita mintai keterangan dalam kapasitas sebagai keterangan ahli--keterkaitan antara faktor-faktor tersebut dengan fakta penyidikan. Kita sudah lakukan juga pemeriksaan ahli psikologi forensik, memungkinkan tidak dengan sana?" tuturnya.

Selanjutnya, Tubagus menjelaskan kaitan kandungan amfetamin pada tubuh Yodi Prabowo dengan peristiwa dugaan bunuh diri.

"Kedua, kaitan dengan amfetamin, beliau sudah kami periksa BAP sebagai ahli, keterangan ahli sebagai alat bukti dalam penyidikan. Jawabannya, 'Kalau diperiksa urinenya amfetaminnya positif, berarti dia mengkonsumsi amfetamin'," tuturnya.

Menurut keterangan ahli, disampaikan oleh Tubagus, amfetamin ini memberikan efek meningkatkan keberanian yang luar biasa.

"Lalu apa pengaruhnya amfetamin terhadap kejiwaan seseorang sehingga mampu melakukan sesuatu hal yang oleh orang normal dianggap tidak mungkin? Yaitu meningkatnya keberanian yang sedemikian luar biasa yang tidak terpikir. Jangan pernah membandingkan pemikiran orang normal dengan orang yang sedang 'tidak normal' karena nggak nyambung ini, tidak ekual, tidak sepadan," jelasnya.

"Maka yang harus diukur adalah bagaimana pengaruh amfetamin itu terhadap keberanian seseorang untuk melakukan sesuatu yang menurut orang normal nggak mungkin dilakukan. Itulah hasil yang tertuang di dalam berita acara pemeriksaan (BAP) ahli," ujarnya lagi.

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda, pembaca, merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

(mea/mea)