Setelah Potong Payudara, Yulizar Akan Jalani Operasi
Senin, 02 Jan 2006 19:34 WIB
Pekanbaru - Yulizar (39) warga Desa Muara Fajar, Pekanbaru terserang kanker ganas sejak dua tahun silam. Tak tahan menahan sakit ditambah himpitan ekonomi, Yulizar pun nekat memotong payudara sebelah kirinya.Dan, pada Senin (2/01/2006) sekitar pukul 15.00 WIB sore tadi, tim medis RS Ibnu Sina rencananya akan melakukan proses pegangkatan kanker ganas Yulizar. "Sore ini tim medis Rumah Sakit Ibnu Sina akan mengangkat sisa kanker ganas di payudara istri saya. Istri saya nekat memotong payudaranya karena tak tahan menderita kanker sejak dua tahun silam," ujar suami Yulizar, Alizar, di RS Ibnu Sina Jl Sumatera, Pekanbaru, Senin (02/01/2006). Laki-laki asal Lintau Sumatera Barat ini menceritakan, dua tahun silam, istrinya sudah merasakan benjolan di sebelah kiri payudaranya. Kian hari benjolan itu membesar hingga empat kali lipat dari ukuran payudara normal. Pasangan suami istri ini, menyadari kalau benjolan itu merupakan tumor ganas. "Waktu itu, kami sudah berobat kampung. Namun selama itu pula tidak ada perobahan. Payudara istri saya terus membengkak dan selalu membuat kondisi tubuhnya lemah. Mau berobat ke dokter, kami tidak punya uang," lirih Alizar. Alizar bercerita, tepatnya 5 Desember tahun lalu peristiwa itu terjadi. Waktu itu, dengan kondisi payudara yang amat besar Yulizar mengalami kecelakaan di dapur rumahnya. Dia terjatuh diatas bara api tempat memasak berbahan bakar kayu. "Tubuh istri saya sempat mengalami luka bakar ringan. Kondisi kesehatannya terus memburuk dan membuat badanya lemas-lemas. Itu sebabnya dia terjatuh." jelasnya. Sejak kejadian itu, Yulizar merasa tertekan. Yulizar merasa, andaikan payudaranya tidak membengkak, mungkin kecelakaan itu tidak perlu terjadi. "Payudara yang membesar itu sangat merepotkan Yulizar," papar Alizar. Dengan kondisi tegak berdiri, dia tidak bisa melihat jari-jari kakinya karena terhalang payudaranya.."Mungkin karena kesal dan frustasi, istri saya nekat memotong payudara sebelah kirinya dengan pisau dapur," kata Alizar. Usai memotong payudaranya, Yulizar pun dilarikan ke Rumah Sakit Ibnu Sina, Pekanbaru. Dia sempat menjalani operasi kecil. Dan selama dalam perawatan, biaya yang dikeluarkan lumayan besar mencapai Rp 10 juta. "Karena sepuluh hari saja dananya sudah mencapai Rp 10 juta, akhirnya saya bawa pulang untuk rawat jalan. Saya sendiri waktu itu hanya mampu membayar Rp 4 juta, itu pun dari hasil pinjaman dan sumbangan dari tetangga," jelas Alizar. Kini, mau tidak mau, Yulizar mesti melakukan operasi kembali untuk mengangkat sisa tumur ganas yang bersarang di payudaranya. Dananya lumayan besar, mencapai Rp 12 jutaan. Besarnya dana membuat Alizar panik. Dia tidak tahu harus begaimana lagi untuk bisa mendapatkan dana sebanyak itu. Itu sebabnya, dia menceritakan kondisi himpitan ekonominya itu kepada wartawan dengan harapan ada pihak donatur yang bersedia meringankan bebannya. "Saya sudah mengurus surat miskin dari pihak RT sampai ketingkat kecamatan. Tapi surat ini juga tidak berlaku untuk bisa berobat gratis. Saya enggan membawa ke Rumah Sakit Umum, karenan pelayanannya yang tidak becus. Saya takut, jangan-jangan kalau di RSUD, malah nyawa istri saya melayang," cetus Alizar.
(ahm/)











































