Seekor Gajah Jantan Tewas di Tangan Tim Dishut Kampar

Seekor Gajah Jantan Tewas di Tangan Tim Dishut Kampar

- detikNews
Senin, 02 Jan 2006 16:11 WIB
Pekanbaru - Seekor gajah jantan diduga tewas di tangan tim Dinas Kehutanan Kampar dalam program relokasi gajah ke Taman Nasinonal Tesso Nilo (TNTN). Gajah itu kini sudah jadi bangkai dengan gadingnya diambil tim Dishut Kampar-Riau. Dua bulan terakhir ini, Dishut Kampar bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSAD) Riau melakukan pengusiran gajah di kawasan Kabupaten Kampar. Rencananya gajah-gajah liar yang diperkirakan ada 30 ekor akan direlokasi ke TNTN serta sebagian lagi dikirim ke Pusat Pelatihan Gajah di Duri. Tapi dalam pelaksanaan di lapangan, tim Dishut Kampar belum berhasil merelokasi gajah tersebut meski dana telah disediakan Rp 800 juta oleh Pemkab Kampar. Malah satu ekor gajah jantan yang diperkirakan merupakan gajah terbesar di Kampar, tewas setelah ditembak dengan peluru bius. Gajah itu tewas di dalam hutan di Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar. Selama ini di tiga desa di kecamatan itu, yakni Desa Lubuk Agung, Sungai Sarih dan Desa Ranai, sering diserang gajah liar. Karena memang kawasan itu merupakan lintasan gajah. Pengakuan Yunus, tokoh masyarakat Desa Agung, kepada wartawan, gajah yang tewas itu sebelumnya sudah ditangkap tim Dishut Kampar. Gajah ini lebih tinggi dari ukuran gajah jinak yang dibawa dari Pusat Pelatihan Gajah di Duri. "Kalau gajah jinak yang ikut dalam menggiringkan gajah liar tingginya ada 4 meter, gajah yang mati itu lebih tinggi lagi sekitar 50 cm," katanya. Gajah jatan tewas sekitar dua pekan silam. Kini bangkainya teronggok di dalam kawasan hutan Desa Lubuk Agung. Sebelum tewas, gajah jantan itu sempat ditembak dengan bius oleh Tim Dishut Kampar dan BKSDA. Selanjutnya kakinya diikat dengan rantai sembari menunggu proses pemindahan."Kami tidak tahu pasti penyebab kematian gajah itu. Selama tertangkap gajah itu diberi makan. Namun agaknya gajah itu kurang pasokan air minum," kata Yunus. Lantas ke mana gading gajah yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah per kilogram itu? Menurut Yunus, berdasarkan pengakuan Tim Dishut Kampar dan BKSDA, gading gajah itu sudah mereka amankan. "Bapak-bapak yang ngusir gajah itu bilang sama kami, kalau gading gajah sudah mereka bawa. Tapi tak tahu dibawa kemana," katanya. Yunus pun mengaku diperintahkan tim Dishut Kampar dan BKSDA, bila ada wartawan atau aktivis WWF yang datang ke lokasi itu agar memberi keterangan bahwa tim sudah berhasil merelokasi 29 ekor gajah dan satu ekor gajah tewas. "Bapak-bapak pemerintah itu pesan sama masyarakat di sini, kalau ada orang yang bertanya, kami disuruh memberi keterangan seperti itu," katanya polos. Tapi warga desa setempat tidak yakin tim pemerintah berhasil merelokasi 29 ekor gajah di kawasan tersebut. Sebab, kata warga, hanya ada 3 truk yang mengangkut gajah. Padahal satu truk hanya mampu mengakut 2 sampai 3 ekor gajah saja. "Kami melihat cuma tiga truk yang melintas membawa gajah," kata Yunus. Aktivis WWF Riau Nurcholis Fadli ketika dikonfirmasi detikcom membenarkan satu ekor gajah di Kampar tewas. Dia menduga tewasnya gajah jantan ini karena tim Dishut Kampar tidak berhasil memindahkan gajah tersebut. Kemungkinan lain, obat bius yang ditembakkan ke badan gajah sudah melebihi dosis. "Standarnya, bila melakukan pemindahan gajah, tim Dishut harus didampingi tim dokter hewan. Tapi kami rasa, saat proses penembakan bius ke badan gajah, tim Dishut tidak didampingi dokter hewan," kata Fadli. Sedangkan Kepala BKSDA Riau, Wilistra, kepada detikcom mengaku belum menerima laporan tentang kematian gajah tersebut. "Saya belum dapat laporan dari seksi wilayah saya. Sementara coba kontak Dinas Kehutanan Kampar," kata Wilistra dalam SMS yang diterima detikcom. (nrl/)


Berita Terkait