Kemenhub Optimalkan Angkutan Ternak untuk Kurban Idul Adha

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 12:26 WIB
Kapal ternak
Foto: Dok. Kemenhub
Jakarta -

Menjelang Hari Haya Idul Adha 1441 H, permintaan kebutuhan hewan ternak semakin meningkat. Untuk memastikan pasokan hewan ternak jelang Idul Adha, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengoptimalkan angkutan ternak yang sudah beroperasi sejak 2018 lalu.

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, saat ini telah mengoperasikan enam unit kapal ternak yang siap mengangkut hewan ternak terutama sapi. Keenam unit kapal itu diharapkan bisa melayani dan memenuhi ketahanan pangan daerah-daerah yang memang butuh pasokan hewan ternak seperti di NTT, NTB dan daerah lainnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut R. Agus H. Purnomo mengungkapkan program pengoperasian kapal khusus angkutan ternak merupakan salah satu implementasi dari program Tol Laut. Tak hanya angkutan khusus ternak yang masuk ke dalam program Tol Laut, angkutan barang, angkutan perintis, angkutan orang juga menjadi bagian dari keseluruhan program Tol Laut yang menjadi prioritas pemerintah dan diberikan subsidi angkutannya. Ia menekankan yang diberikan subsidi oleh pemerintah itu adalah angkutannya, mulai dari pelabuhan asal sampai pelabuhan tujuan.

"Program ini merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah, harapannya untuk ternak ini bahwa paling tidak dengan ongkos angkut yang disubsidi ini harga hewan ternak dari daerah asal itu bisa menjadi lebih bagus sesuai pasar. Selain itu, ini juga menunjukkan komitmen Kemenhub untuk terus mendorong ketahanan pangan terutama untuk bahan makan daging sapi nasional agar kebutuhannya masyarakat tetap dapat terpenuhi," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2020).

Beberapa waktu lalu, Ditjen Perhubungan Laut melalui Kantor KSOP Kelas III Kupang telah melepas kapal ternak KM. Camara Nusantara 2 yang dioperatori oleh PT Pelayaran Wirayuda Maritim. Kapal itu berlayar dengan rute perdana dari Pelabuhan Tenau, Kupang NTT langsung menuju Pelabuhan Dumai, Riau dengan mengangkut sebanyak 550 ekor sapi. Hal tersebut untuk memenuhi permintaan Pemerintah Daerah Dumai atas tingginya kebutuhan hewan sapi menjelang Hari Raya Idul Adha 1441 H. Ia juga mengatakan kapal tersebut didesain khusus untuk mengangkut ternak.

"Maka diharapkan dari pelabuhan asal sampai pelabuhan tujuan hewan ternak dalam kondisi sehat, jadi tidak ada unsur pemaksaan selama pelayaran mulai dari diangkut sampai diturunkan bahkan dokter hewan pun ada ini sekarang untuk yang kapal ternak ini istilahnya kita menghewankan hewan, jadi hewan itu betul-betul ditreatment supaya mereka selama di dalam kapal sampai dengan tempat tujuan betul-betul dalam kondisi fit tidak ada lagi stress dan tetap sehat," katanya.

Agus juga menyampaikan salah satu tugas besar pemerintah adalah mengelola Program Strategis Nasional Tol Laut mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, sosialisasi dan harmonisasi pelaku usaha, penyediaan kapal, pemanfaatan fasilitas pelabuhan, dukungan teknologi informasi, proses bisnis logistik dan evaluasi program. Hal inilah yang menjadikan breakthrough bagi kemajuan maritim Indonesia.

"Namun di sisi lain, mungkin masih banyak masyarakat belum tahu sebenarnya apa program Tol Laut, siapa saja stakeholder dan ekosistem yang terlibat, bagaimana perkembangan pelaksanaannya dan apa dampak terhadap perekonomian bangsa, apa tantangan dalam implementasinya serta permasalahan yang timbul dan dapat menjawab isu-isu yang berkembang seperti biaya logistik tinggi, sarana prasarana, sumber daya manusia, pendanaan, kelembagaan dan regulasi," bebernya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Capt. Wisnu Handoko menjelaskan Tol Laut adalah salah satu Program Strategis Nasional yang dicanangkan di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tujuan Tol Laut adalah untuk menjamin adanya konektivitas, adanya kapal yang secara terjadwal, teratur, tepat waktu melalui pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia mulai dari Indonesia Timur sampai dengan Indonesia Barat, mulai di Bagian Utara yaitu Pulau Miangas sampai di Bagian Selatan yaitu Pulau Rote.

Menurutnya, implementasi Program Tol Laut diwujudkan dalam bentuk tambahan dari trayek-trayek komersial yang sudah dijalankan oleh perusahaan pelayaran swasta yang sebelumnya tidak bisa memasuki seluruh pelabuhan yang dibangun oleh Kementerian Perhubungan. Saat ini kurang lebih ada 636 pelabuhan, mulai dari level pelabuhan utama, pelabuhan pengumpul, pelabuhan tingkat pengumpan regional, dan pengumpan lokal yang telah dibangun oleh Kemenhub.

"Sebagian besar 85% (kapal-kapal Kontainer Tol Laut) kita arahkan menuju Indonesia Timur, ini adalah untuk memecahkan isu kesenjangan pemerataan pembangunan juga kita melaksanakan apa yang tercantum di dalam Nawacita di mana di sana pemerintah berkomitmen untuk membangun Indonesia dari 3TP (tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan)," ucap dia.

Selain itu, Wisnu mengatakan sejak 2015 Kementerian Perhubungan telah memiliki Kapal Ternak, yaitu KM Camara Nusantara 1. Melihat animo yang cukup besar, pada 2018 Kemenhub kembali menambah armada Kapal Ternak antara lain, KM Camara Nusantara 2, 3, 4, 5 dan 6.

Selama masa pandemi COVID-19, sejak Maret 2020 sejak diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), ia mengatakan kebijakan yang ditetapkan oleh Kemenhub adalah jelas bahwa logistik tidak boleh dihambat, para gubernur dan bupati harus memastikan bahwa kapal-kapal pengangkut barang termasuk ternaknya tidak terhambat.

"Kita bisa melihat di mana ekspor-impor kita mengalami penurunan akibat penurunan perdagangan dunia, justru untuk pengiriman logistik dalam negeri kita masih bertahan, bahkan menunjukkan ada kenaikan sekitar 1-2%. Ini menunjukkan bahwa jika kita sungguh-sungguh mengelola UMKM dengan baik, kemudian produsen industri hasil daerah itu bisa menopang perekonomian dalam negeri kita. Dengan demikian, Tol Laut adalah backbone atau kemampuan mandiri bangsa kita ketika perdagangan antar pulau ini bisa kita pastikan sistem logistiknya dengan baik," tuturnya.

Dalam hal ini, Kementerian Perhubungan telah mendesain suatu aplikasi digital yang kita sebut Inaportnet, khusus program Tol Laut. Aplikasi ini berguna untuk memantau orang yang membooking ada Logistic Communication System, (LCS) dan LCS khusus untuk ternak tahun ini akan launching. Sehingga nantinya pedagang dan pengirim ternak bisa memanfaatkan LCS dengan baik dan bagi aparat yang mengontrol bahkan lebih mudah membandingkan kondisi ril di lapangan (di atas kontainer) dengan apa yang ada di dalam dokumen.

"Saya kira isu ke depan adalah memperbaiki manifest domestik sehingga semuanya menjadi transparan dan kita mudah," ucapnya.

Wisnu menyatakan pihaknya telah siap menghadapi Idul Adha dan tidak harus tergantung pada sapi dari Australia dan New Zealand. Ia berujar jika Indonesia dapat mengembangkan sapi lokal secara mandiri mungkin bisa memenuhi kebutuhan nasional.

Pembahasan ini terjadi pada Webinar dengan tema Idul Adha di Era Adaptasi Kebiasaan Baru. Turut hadir pula menjadi narasumber dalam webinar tersebut antara lain Asisten Deputi Infrastruktur Konektivitas Kemenko Maritim dan Investasi Rusli Rahim, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian Fini Murfiani, Kasub Satgas Pangan Kombes Pol. Helfi Assegaf, dan Kepala Program Studi Pasca Sarjana Teknik Sistem Perkapalan ITS Saut Gurning.

(prf/ega)