Ahli Epidemiologi Bingung Kapan Corona Berakhir, MPR Sebut Ini Alasannya

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Senin, 20 Jul 2020 20:48 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat
Foto: Istimewa
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan Indonesia harus memiliki strategi yang terukur dan konsisten dalam pengendalian COVID-19. Menurutnya, strategi itu akan mempermudah para pemangku kepentingan di sejumlah sektor mengambil keputusan.

"Yang dibutuhkan sejumlah pihak saat ini adalah kepastian atau setidaknya perkiraan yang didasari atas pencatatan yang konsisten," ujar Lestari dalam keterangannya, Senin (20/7/2020).

Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, saat ini Indonesia memang ramai dibicarakan karena angka kasus COVID-19 yang tidak kunjung turun. Indonesia mendapat sorotan khusus mengingat kasus positif COVID-19 kini jauh melampaui negara penyebar pertama China.

Berdasarkan data dari Worldometers.info hingga Minggu (19/7) yang terpapar COVID-19 di dunia sudah mencapai lebih dari 14 juta kasus. Hingga Sabtu (19/7), Indonesia memiliki 84.882 kasus positif virus Corona. Sedangkan China pada hari yang sama tercatat memiliki 83.660 kasus positif Corona.

Perbedaannya antara lain, positivity rate di Tiongkok 0,1 persen, namun angka positivity rate Indonesia terbilang tinggi yaitu 12,2 persen. Berdasarkan WHO idealnya positivity rate di bawah 5 persen.

Terus meningkatnya kasus positif COVID-19 di Tanah Air, kata Rerie, menimbulkan pertanyaan sejumlah kalangan, kapan pandemi COVID-19 berakhir di wilayah Nusantara.

"Sangat disayangkan, sejumlah ahli saat ini tidak mampu menjawab pertanyaan itu, dengan alasan data yang diperolehnya seringkali berubah," terangnya.

Rerie menilai pilihan pendekatan dalam penghitungan data COVID-19 dan kedisiplinan masyarakat yang masih rendah dalam menjalankan protokol kesehatan menjadi salah satu yang dikeluhkan para ahli epidemiologi. Hal itu, menyebabkan data yang diperoleh para ahli tidak memadai untuk memprediksi kemungkinan di masa datang.

"Kondisi tersebut juga membuat pemangku kebijakan di sektor lain kesulitan untuk mengambil kebijakan," jelasnya.

Berdasarkan kenyataan itu, ia berharap, pemerintah menggunakan sistem yang konsisten dalam memproses data penanggulangan COVID-19. Selain terus mendisiplinkan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.

"Konsistensi dalam memproses data dan mendisiplinkan masyarakat jalankan protokol kesehatan, memungkinkan sektor lain seperti sektor ekonomi bergerak untuk mendorong pertumbuhan," pungkasnya.

(mul/ega)