Tangani Wisata Danau, Perlu Dibentuk Badan Otorita
Senin, 02 Jan 2006 13:11 WIB
Medan - Untuk lebih mengoptimalkan penanganan objek wisata Danau Toba di Sumatera Utara (Sumut), Pemerintah Provinsi Sumut harus segera membentuk Badan Otorita Danau Toba (BODT). Dengan pembentukan ini, diharapkan pengelolaannya bisa lebih fokus karena ada badan khusus yang menangani pemasaran objek wisata andalan Sumut ini. Usulan ini disampaikan anggota DPRD Sumut Efendi Naibaho dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Dewan, Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (2/1/2006). "Penanganan objek wisata di Sumut sejauh ini masih belum optimal, terutama Danau Toba. Diperlukan kebijakan baru yang inovatif untuk membangkitkan iklim pariwisata itu pada tahun 2006 ini, agar masalah ini segera tuntas. Pembentukan Badan Otorita Danau Toba merupakan salah satu solusi untuk ini," kata Naibaho. Naibaho menyatakan keprihatinannya atas kondisi ini. Sekarang ini para pelaku bisnis pariwisata di Sumut berusaha mendatangkan sendiri para turis. Karena sifatnya yang parsial, maka upaya itu tidak maksimal. Lembaga BDOT itu nantinya, kata Naibaho, tidak hanya menangani kepariwisataan, tetapi hal-hal yang selingkup dengan ini. Termasuk penataan ekosistem sekitarnya, serta penyiapan calendar event yang dilaksanakan di Danau Toba, yang mencapai 1.102,60 kilometer persegi (km2), sementara luas daratan Pulau Samosir yang dikelilingi danau mencapai 3.440,85 km2."Dengan penanganan seperti ini, tentu Danau Toba bisa lebih siap menerima kedatangan turis, dan proaktif mendatangkan turis, terutama turis mancanegara," kata Naibaho. Mengenai usulan ini, Sekretaris Badan Pariwisata Daerah (Bawisda) Sumut, Raya Timbul Manurung, menyatakan sepakat dengan usulan itu. Dia menilai pembentukan itu akan memberi nilai tambah pada aspek pengelolaan. Pembentukan badan otoritas seperti ini sudah lazim di sejumlah negara tetangga, sepeti Malaysia dan Thailand. "Hanya saja perlu dipertimbangan anggaran dananya mau diambil dari mana. Selama ini anggaran untuk Bawisda saja sudah minim," kata Manurung. Selain itu, kata Manurung, persoalan minimnya kunjungan turis ke Sumut, berkaitan dengan banyak hal lain. Termasuk dalam hal ini penerbangan. Sejak tahun 1994 tidak ada lagi penerbangan dari Medan menuju negara-negara Eropa. Selain itu masalah kunjungan turis, daerah lain di Indonesia juga dihadapkan pada persoalan serupa terutama karena efek Bom Bali I dan II. Data yang dikeluarkan Badan Pariwisata Daerah (Bawisda) Sumut menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2004 mencapai 113.660 orang atau naik 15,54 persen dibandingkan realisasi kunjungan pada tahun 2003 sebanyak 98.374 orang. Wisatawan mancanegara ke Sumut itu didominasi Malaysia, yang mencapai 55 persen.
(nrl/)











































