Sapardi Djoko Damono dan Kisah-kisah di Balik Puisinya

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Minggu, 19 Jul 2020 21:37 WIB
Sapardi Djoko Damono
Penyair Sapardi Djoko Damono di ruang kerjanya, Institut Kesenian Jakarta sekitar tahun 2015 Foto: detikcom
Jakarta -

Sapardi Djoko Damono mendatangi sebuah rumah sakit swasta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ketika itu, dua belas tahun yang lalu dia divonis menderita katarak dan harus segera dioperasi.

Pertanyaan pertama dokter itu bukan soal katarak yang dideritanya. Namun soal aktivitas Sapardi Djoko Damono dalam menulis puisi. Sang dokter lantas bercerita. Anaknya pernah mengutip puisi karya Sapardi, "Aku Ingin" di kartu undangan pernikahan.

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

"Ketika saya mau bayar dokternya bilang tidak usah he-he-he. Saya cuma bayar ongkos administrasi. Itulah salah satu keuntungan yang pernah saya dapat dari menulis puisi," tutur Sapardi Djoko Damono pada detikcom saat ditemui di gedung Institut Kesenian Jakarta, sekitar lima tahun yang lalu.

Dari ratusan puisi yang dibuat penyair kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 itu, "Aku Ingin" termasuk salah satu yang amat popular dan digandrungi publik lintas generasi selain "Hujan Bulan Juni". Namun Sapardi Djoko Damono justru mengaku sangat menyukai puisi "Tuan" dan "Berjalan ke Barat di Pagi Hari".

Puisi pertama karena mendapat penghargaan dari Malaysia pada 1983 atau 1984. "Itu hadiah terbesar yang pernah saya terima. Nilainya waktu itu bisa untuk membeli mobil cukup bagus lah," ungkap sastrawan lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu.

Sementara puisi kedua membanggakan dirinya karena mewakili Asia Tenggara yang masuk antologi puisi dunia. Puisi itu kemudian diterjemahkan menjadi Walking to the West in the Morning.

Selain cerita dokter mata dan puisi "Aku Ingin" di atas, Sapardi Djoko Damono yang wafat 19 Juli 2020 ini juga menuturkan kisah-kisah lain tentang puisinya pada detikcom. Berikut diantaranya:

1. Puisi "Aku Ingin" sering dikira gubahan Kahlil Gibran

Sapardi menuturkan pernah melihat di bawah puisi "Aku Ingin" yang dikutip dalam sebuah undangan pernikahan ada nama Kahlil Gibran. Kahlil Gibran adalah seorang seniman dan penulis asal Lebanon yang telah wafat tahun 1931 lalu. Dia mengaku tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. "Biarin saja mau diapain," ujarnya.

2. Soal inspirasi saat menciptakan "Aku Ingin"

Saat ditanya tentang inspirasi saat menuliskan puisi "Aku Ingin", Sapardi Djoko Damono menuturkan puisi itu ada dua komponen. Puisi itu adalah gambar dan puisi itu adalah bunyi. "Jadi ketika kita membaca puisi ada gak gambaran itu. Karena puisi adalah kata-kata dan kata-kata itu pada hakikatnya adalah bunyi. Karena itu puisi adalah bunyi yang bisa menghasilkan gambar," ujarnya.

"Ketika saya menuliskan Aku Ingin yang penting bagi saya bukan maknanya apa. Tetapi gambarnya itu lo. Ada kayu, ada api. Kayunya dibakar, dan jadi abu. Saya harus mikir mau diapain gambar ini. Ternyata menurut pikiran saya waktu itu percintaan yang begitu intim antara api dan kayu."

3. "Aku Ingin" bukan sebuah puisi cinta

Sebanyak dua kali kata cinta disebut dalam puisi "Aku Ingin". Ketika menuliskan puisi tersebut Sapardi pun mengaku dalam pikirannya waktu itu ada percintaan yang begitu intim antara api dan kayu.

Namun Sapardi Djoko Damono menyatakan karyanya itu bukanlah sebuah puisi cinta. "Tapi apakah itu puisi cinta saya kira bukan," kata Sapardi menjelaskan.

Meski demikian, dia membebaskan setiap orang menafsirkan. Bahkan Sapardi tidak mempermasalahkan ketika ada yang menafsirkan puisi itu menceritakan soal keputusasaan penyairnya.

4. Turunnya hujan saat musim kemarau jadi latar puisi "Hujan Bulan Juni"

Sapardi menulis puisi Hujan Bulan Juni berdasarkan pengalaman hidupnya yang sederhana. Saat berada di Yogya dan Solo pada masa mudanya, dia mengingat bulan Juni merupakan kemarau dengan malamnya yang sangat dingin. Hujan tak pernah turun saat bulan tersebut.

Namun ketika pindah ke Jakarta, dia mendapati hujan turun di bulan Juni yang seharusnya kemarau. "Ketika musim kacau di seluruh dunia. Ini yang saya manfaatkan untuk sajak Hujan Bulan Juni. Ada hujan, pohon, mainnya imaji saya di situ," ujar Sapardi Djoko Damono .

Sapardi Djoko DamonoSapardi Djoko Damono ketika melayani bimbingan tugas akhir mahasiswa di IKJ sekitar tahun 2015 (Foto: dok. detikcom)

5. Memilih musim hujan ketimbang kemarau

Penyair pengagum WS Rendra ini mengaku lebih memilih musim hujan ketimbang kemarau. Selain karena musim kemarau yang panas, Sapardi Djoko Damono mengaku sering terkenang masa-masa kecilnya di Solo saat musim hujan.

"Hujan-hujanan itu salah satu pengalaman yang luar biasa dan telanjang bulat. Kami pernah begini sama teman dua orang, hujan deras banget ada andong. Di belakangnya kan ada tempat kita bisa gantung. Kami naik situ keliling-keliling. Sampai satu tempat tidak hujan. Ciloko to.. Jadi lari-lari telanjang bulat. Saya ingat terus itu," ujarnya.

6. Mood dan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono

Sapardi mengaku bisa menciptakan puisi dimana saja. Puisi-puisinya ada yang ditulis di ruangan kerja, kereta api, atau pesawat terbang. Namun menurut Sapardi Djoko Damono, proses penciptaan puisi itu harus menunggu suasana hati yang mendukung. "Bagi saya nulis di manapun tidak ada bedanya. Tapi mood itu yang paling penting sekali," katanya.

(pal/erd)