Analisa Lia Eden dari Sisi Teologis

Analisa Lia Eden dari Sisi Teologis

- detikNews
Sabtu, 31 Des 2005 09:18 WIB
Jakarta - Lia Aminuddin alias Lia Eden dapat dipahami sebagai usaha manusia untuk dekat dengan tuhannya. Dalam usahanya itu, Lia Eden menemukan suasana-suasana psikologis yang begitu tingginya sehingga merasa dirinya Malaikat Jibril.Menurut Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Salman Harun, dari segi merasakan dan pengakuan dirinya sebagai Jibril, itu tidak dapat diterima. Lia Eden jelas salah.Namun, lanjutnya, kita hanya menilainya dari segi penampilan lahiriyahnya, yaitu ucapannya. Padahal itu hanyalah sebagai aktualisasi pengalaman psikologisnya."Lebih hebat lagi al-Hallaj dulu juga disalahkan karena menganggap dirinya tuhan. Syekh Siti Jenar di Jawa juga begitu. Tapi belakangan, dipandang dari segi tasawuf atau dari segi penghayatan pribadi, mungkin hal itu biasa saja terjadi," kata Salman ketika dihubungi detikcom, Sabtu (31/12/2005).Karenanya, menurut Salman, dipandang dari segi penghayatan agama, Lia Eden mungkin dapat dipahami. Penghayatannya itu sifatnya untuk pribadi, tidak untuk ditiru dan diikuti."Akan tetapi, bila sudah diikuti atau ada pengikutnya, maka itu berarti berkaitan dengan ketenangan dan keamanan masyarakat," tandasnya.Menurut Salman, Lia Eden sebenarnya ingin berkomunikasi dengan tuhan. Dalam ajaran Islam, cara berkomunikasi dengan Allah hanya dapat terjadi dalam tiga cara (S.al-Syura/42:51), yakni pewahyuan langsung melalui mimpi atau ilham, pewahyuan dari balik tabir dan pewahyuan melalui Malaikat Jibril.Yang mungkin terjadi pada manusia biasa adalah cara pertama, yaitu mimpi atau ilham. Nabi Muhammad SAW menyatakan mimpi yang benar itu bernilai 1/46 wahyu. Yang mungkin terjadi dalam kasus Lia Eden paling-paling ilham itu. Tetapi pesan yang diperoleh melalui ilham itu seharusnya dipakai sebagai pengalaman pribadi.Menyatakan ilhamnya itu berasal dari Jibril adalah salah, karena yang didatangi Jibril hanyalah nabi. Sedangkan Lia bukanlah nabi. Silsilah keturunannya sangat jelas bahwa dia adalah manusia biasa. Sedangkan pewahyuan dari balik tabir hanya dialami Nabi Musa dan Nabi Muhammad pada waktu Isra Mi'raj. (atq/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads