Komentar Pimpinan KPK soal Vonis Ultra Petita 2 Penyerang Novel Baswedan

Ibnu Hariyanto - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 12:34 WIB
Nawawi Pomolango
Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Dua terdakwa penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis, masing-masing divonis 2 tahun dan 1,5 tahun penjara. Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango awalnya enggan menanggapi mengenai vonis itu.

"Saya tidak dapat mengomentari apakah hukuman yang telah dijatuhkan majelis hakim telah setimpal atau belum dengan perbuatan," kata Nawawi kepada wartawan, Jumat (17/7/2020).

Namun Nawawi menyoroti perihal jaminan perlindungan negara bagi penegak hukum dalam kasus itu. Meski pada akhirnya Nawawi enggan lagi menyampaikan jelas apakah vonis itu sudah mencerminkan perlindungan negara atau belum.

"Sebenarnya yang terpenting dan yang diharapkan KPK dari putusan majelis hakim dalam perkara ini adalah sejauh mana putusan ini dapat menjadi cerminan jaminan perlindungan negara terhadap insan penegak hukum, khususnya dalam pemberantasan korupsi," kata Nawawi.

"(Apakah vonis dua penyerang Novel sudah mencerminkan perlindungan negara) Itu bergantung masing-masing orang menterjemahkannya," imbuhnya.

Sebelumnya, majelis hakim menjatuhi hukuman berbeda kepada Ronny dan Rahmat. Ronny divonis pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan, sedangkan Rahmat 2 tahun penjara.

Hakim menyatakan Ronny dan Rahmat bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan berat kepada Novel Baswedan. Keduanya terbukti bersalah melanggar Pasal 353 ayat 2 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

"Mengadili, menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan penganiayaan bersama-sama dan terencana lebih dahulu dengan mengakibatkan luka berat," ujar hakim ketua Djuyamto saat membacakan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Petojo Utara, Jakarta Utara, Kamis (16/7).

Novel Baswedan sudah menanggapi vonis kedua penyerangnya itu. Novel menilai, meski hukuman yang dijatuhkan lebih tinggi, pertimbangan hakim dalam putusan itu sama dengan tuntutan jaksa.

"Setelah putusan dibacakan, saya dihubungi oleh beberapa kawan yang beri tahu bahwa pertimbangan dalam putusan hakim sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum, hanya beda besarnya hukuman," kata Novel kepada wartawan, Kamis (16/7).

"Karena penyimpangan yang begitu jauh dari fakta sebenarnya akhirnya mendapat justifikasi dari putusan hakim," imbuhnya.

Tonton video 'Hakim: Tak Ada Unsur Penganiayaan Berat Dakwaan Primer Penyerang Novel':

(ibh/dhn)