Aksi Jahit Mulut Tambah Tiga Orang lagi
Jumat, 30 Des 2005 16:41 WIB
Jakarta - Warga korban Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di Jawa Barat yang melakukan aksi mogok makan dengan menjahit mulutnya di Posko Selamatkan Rakyat Indonesia (SRI), Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (30/12/2005) bertambah menjadi 5 orang.Tiga orang yang baru bergabung adalah Amin Supriyatno (50) warga Cihajuang, Sumedang, Dadang Dori (32) warga Cianjur, dan Romli (39) warga Ciseeng, Bogor.Keikutsertaan tiga orang tersebut menyusul dua rekannya, Safruddin (42) warga Ciseeng, Bogor dan Nurdin (39) warga Cicalengka, Bandung, yang telah menggelar aksi serupa selama tiga hari.Mereka beralasan, meski rekannya sejak tiga hari lalu menjalankan aksi tersebut, nyatanya pemerintah tidak memberikan tanggapan apa-apa.Koordinator Solidaritas Advokasi Korban SUTET Indonesia (Saksi) Mustar Bona Ventura mengatakan, pemerintah memang tidak peduli dengan tuntutan warga."Pemerintah mengabaikan, padahal permintaan warga sangat sepele, yaitu agar pemerintah mematuhi UU Ketenagalistrikan. Warga tidak minta muluk-muluk," kata Mustar yang telah 9 tahun menjadi pembela warga korban SUTET di Jawa Barat.Dengan tegas Mustar menyatakan, kelima korban SUTET tersebut serius melakukan aksi mogok makan sampai mati."Hidup di bawah tegangan listrik dengan radiasi sudah pasti mati. Ini sama saja kalau pemerintah tidak penuhi tuntutan, mereka siap mati," katanya.Aksi mogok makan dengan menjahit mulut ini, sambung Mustar, terinspirasi dari Polandia. Di negeri itu, ada aktivis yang mogok makan hingga mati di dalam penjara, dan itu berhasil."Jadi warga benar-benar siap mati sampai mendapatkan ganti rugi. Pihak keluarga juga sudah rela, dan nanti malam dari Cianjur (keluarga Dadang) akan menjenguk," kata dia.Dia juga minta warga korban SUTET yang ditangkap polisi di Polsek Ciranjang dibebaskan. Kontras saat ini tengah mengupayakan pembebasan tersebut.Diperiksa DokterPukul 13.00 WIB, Syafruddin dan Nurdin sempat mendapat pemeriksaan medis dari dr Roy Sihotang yang juga turut bersimpati dengan penderitaan warga korban SUTET.Menurut Roy, pemeriksaan medis dilakukan karena aksi itu sudah berlangsung 3 hari. Dan kedua orang itu berada dalam kondisi yang sangat lemah, terutama Nurdin yang kondisinya semakin buruk."Keduanya sudah lemah, namun masih dalam batas mereka bisa melanjutkan aksinya. Tadi saya sudah cek semuanya, termasuk tekanan darah, nadi, jantung, serta luka jahitan di mulutnya. Semua masih dalam batas wajar," papar Roy.Roy juga telah menyarankan kepada rekan-rekan kelima orang tersebut untuk menyiapkan pertolongan medis agar sewaktu-waktu dapat memberi pertolongan pertama jika terjadi sesuatu. "Saya juga minta agar peserta aksi diberikan air gula jika kondisinya memburuk," kata dia.
(umi/)











































