Analisis BMKG soal Banjir Bandang Masamba Luwu Utara

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Selasa, 14 Jul 2020 14:34 WIB
Sebuah truk milik warga terendam lumpur akibat banjir bandang di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Selasa (14/7/2020). Petugas BPBD Sulawesi Selatan masih menginventarisasi kerugian akibat banjir bandang pada Senin, 13 Juli 2020 yang mengakibatkan puluhan rumah terbawa arus, dua orang meninggal dan tujuh orang hilang. ANTARA FOTO/Indra/wpa/foc.
Banjir bandang di Luwu Utara (Indra/Antara Foto)
Luwu Utara -

BMKG mengatakan banjir bandang di Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), terjadi karena intensitas hujan yang cukup tinggi sejak Senin (14/7). BMKG menyebut hujan dipengaruhi suhu muka laut di perairan Teluk Bone.

"Kejadian hujan lebat di wilayah Luwu Utara dipengaruhi oleh suhu muka laut yang hangat di Teluk Bone," jelas BMKG Makassar dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (14/7/2020).

Selain itu, hujan lebat di Luwu Utara dipengaruhi oleh adanya daerah belokan angin atau konvergensi di wilayah Sulawesi bagian tengah. Hal ini memicu pertumbuhan awan konvektif atau awan kumulonimbus yang mengakibatkan terjadinya hujan lebat.

BMKG Makassar memprediksi hujan di wilayah Luwu Utara masih akan terjadi hingga Rabu (15/7) besok. "Namun untuk 3 hari ke depan intensitasnya sudah menurun," tulis BMKG.

Sementara itu, berdasarkan analisis citra satelit BMKG, pertumbuhan awan konvektif terjadi di wilayah Sulawesi Tengah dan bergerak ke Luwu Timur dan Luwu Utara. Curah Hujan yang cukup tinggi terkonsentrasi di wilayah hulu Luwu Timur.

Dari pantauan BMKG, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat memang terjadi di Kota Masamba, Luwu Utara, pada 12 hingga 13 Juli lalu.

Sebelumnya diberitakan, Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani menyebut banjir bandang menerjang enam kecamatan di wilayahnya akibat curah hujan yang cukup tinggi sejak Senin (13/7). Indah menerima laporan pertama kali soal terjadinya banjir bandang dari wilayah hulu Sungai Masamba.

"Kalau di Kota Masamba itu mulai sekitar pukul 19.30 Wita saya dapat telepon dari daerah hulu (ada banjir bandang). Begitu keluar, saya baru dekat masjid di belakang rujab Bupati itu, air sudah datang," ujar Indah kepada detikcom, Selasa (14/7).

Banjir bandang yang terjadi turut membawa material lumpur, pohon, hingga kayu. Akibatnya, baik jalan nasional hingga fasilitas umum lainnya turut terendam lumpur.

"Jadi cepat sekali memang kejadiannya. Itu air membawa material, terutama lumpur yang paling banyak, kayu juga cukup banyak. Ada pohon juga," katanya.

(nvl/idh)