Kriminolog: Aksi Kriminal Tahun 2005 Sangat Memprihatinkan

Kriminolog: Aksi Kriminal Tahun 2005 Sangat Memprihatinkan

- detikNews
Jumat, 30 Des 2005 08:02 WIB
Jakarta - Kegiatan kriminal selama tahun 2005 sudah sampai tingkat sangat memprihatinkan. Ini terlihat dari terjadinya beberapa kasus kekerasan sangat keji yang menimpa masyarakat baik secara kolektif maupun individualDari segi kekerasan individual adanya beberapa kasus mutilasi, serta kekerasan rumah tangga seperti pembunuhan anak oleh bapaknya. Sedangkan dari segi kekerasan kolektif kasus Poso masih menjadi yang paling mengerikan."Seperti pembunuhan beberapa polisi menggunakan parang (kasus Mahdi)," kata kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala kepada detikcom. Adrianus dihubungi via telepon, Jumat (30/12/2005), untuk diminta mengevaluasi kasus-kasus kejahatan menonjol selama tahun 2005.Andrianus menambahkan khusus kasus kekerasan yang bersifat politik di tahun 2005 terjadi penurunan. Akan tetapi untuk kasus yang diungkap oleh aparat maupun pihak-pihak lain membuat dinamika kriminal semakin meriah di akhir tahun ini."Kejahatan yang mengundang perhatian karena pertama-tama diungkap kepolisian atau aparat lainnya seperti kasus KPU, BNI. Bukan dari berapa besarnya kerugian negara yang ditimbulkan, akan tetapi siapa nama-nama dibalik itu" tegasnyaSedangkan untuk tahun 2006, Adrianus memprediksi banyak kasus-kasus yang belum terbongkar akan segera terbongkar. Ini berkat gebrakan yang dibuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam memerangi korupsi"Saya menduga terkait gebrakan SBY, orang makin tidak berani korupsi. Artinya modus korupsi makin canggih tapi dari segi uang yang dikorupsi makin sedikit, sehingga dari segi cluster mengecil," papar Adrianus.Adrianus meyakini dengan adanya tekanan dari masyarakat kepada aparat kepolisian, kejaksaan, KPK, maka akan semakin banyak kasus yang dapat diungkap. (gtp/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini