LSI: Masyarakat Sangat Terbebani dalam Membeli Beras
Jumat, 30 Des 2005 02:17 WIB
Jakarta - Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dinilai gagal meringankan beban hidup masyarakat. Sebanyak 75 persen responden yang diwawancarai Lembaga Survey Indonesia (LSI) merasa sangat terbebani dalam membeli beras, bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat di Indonesia.Ini terungkap dalam hasil survey nasional yang dilakukan LSI pada 14-18 Desember 2005. Total responden 1109 orang, tersebar di 33 provinsi dengan menggunakan multistage random sampling. Margin of error 2,95 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.Menurut peneliti utama LSI Anis Baswedan, dalam jumpa pers di Hotel Nikko, Jl. MH Thamrin, Jakarta, Kamis (29/12/2005), keluhan ini menunjukkan kondisi ekonomi publik mengalami penurunan. Masyarakat juga merasakan beban yang berat menyangkut kebutuhan energi. Hal ini dapat dilihat dari presentasi daya beli minyak tanah. Sebesar 90 persen responden menyatakan lebih berat daripada tahun lalu. Pukulan selanjutnya yang menimpa masyarakat adalah tekanan inflasi. Inflasi yang menurut data BPS bergerak sekitar 17,17 persen ini memiliki sensitifitas sangat tinggi pada publik. Artinyakenaikan inflasi beberapa point saja sudah membuat publik terjepit dan daya belinya turun.Penurunan daya beli masyarakat dan tekanan inflasi membuat publik kian terpuruk. Karena itu pemerintahan Presiden SBY harus lebih sensitif terhadap dua hal di atas agar kepercayaan publik tetap terjaga dan tidak terus menurun.Reshuflle Kurang DisambutData lain yang terungkap, ternyata reshuflle terbatas di bidang ekonomi kurang disambut baik oleh publik. Lebih dari 50 persen responden menyatakan kurang yakin bahwa reshuflle kabinet akan membuat pemerintahan SBY menjadi lebih baik.Angka ini mengkhawatirkan karena bila dikombinasikan dengan penurunan tingkat kepuasan (80-56 persen) pada pemerintah. Publik merasa langkah-langkah kuratif presiden masih belum dapat memperbaiki kinerjanya.Namun, pemilihan Boediono sebagai Menko Perekonomian dipandang tepat oleh publik. Boediono meraih tingkat kepercayaan tertinggi yaitu sebesar 40,1 persen dibanding menteri-menteri baru yang lain. Kepercayaan publik ini dapat menjadi modal politik yang baik bagi Boediono sebagai Menko Perekonomian.
(gtp/)











































