Biografi Moh Hatta yang Belajar Ilmu Koperasi Sampai ke Denmark

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Minggu, 12 Jul 2020 16:09 WIB
Meneladani Bung Hatta
Ilustrasi Bung Hatta Foto: Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah
Jakarta -

Indonesia merdeka tak bisa lepas dari jasa Mohammad Hatta alias Bung Hatta. Selain kiprahnya di dunia politik, pengetahuannya pada ilmu ekonomi juga membuatnya dikenal sebagai salah satu pendorong gerakan koperasi di Indonesia. Seperti ini lah biografi Moh Hatta.

Moh Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 11 Agustus 1902 ini salah satu proklamator kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Hatta merupakan anak kedua dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Kakeknya seorang ulama besar dan ternama di Sumatera Barat pada masa itu yang bernama Syekh Abdurrachman atau Syekh Batu Hampar. Selepas usia remaja, Hatta meninggalkan tanah Minang untuk melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia.

Ia lalu hijrah ke Belanda untuk bersekolah di Handels Hogeschool (sekarang namanya Universitas Erasmus Rotterdam) pada September 1921. Hatta tiba di negeri itu dengan menumpang kapal Tambora milik Rotterdamse Lloyd. Di negeri Belanda pula ia mengenal dan sempat memimpin organisasi pergerakan yang memiliki cita-cita merdeka dari kolonialisme.

Karena aktivitas politiknya itu Hatta sempat mendekam di ruang tahanan. Tak hanya fokus soal pergerakan, semasa di Eropa pula, Hatta memperdalam ilmu koperasi. Dia disebut mengunjungi sejumlah negara Skandinavia di antaranya Denmark demi mencari tahu soal koperasi.

Di bawah pimpinan Hatta, Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda sudah merumuskan lima prinsip ekonomi. Salah satu di antaranya, "Memajukan koperasi pertanian dan bank-bank rakyat". Pada Juli 1932, Hatta kembali ke Tanah Air. Semangatnya di bidang politik tak memudar bahkan makin berkobar.

Beberapa kali pemerintah kolonial Belanda menangkap lalu mengasingkan Hatta ke daerah-daerah terpencil. Perjuangan tanpa kenal lelah itu membuahkan hasil. Bersama Sukarno, Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dia pun didapuk menjadi Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia mendampingi Presiden Sukarno.

Meski aktif di politik, Hatta tak melupakan dunia ekonomi. Salah satunya mendorong gerakan koperasi. Bahkan untuk jasanya itu, Hatta diberi gelar Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung, Jawa Barat tanggal 17 Juli 1953.

Berikut fakta soal biografis Moh Hatta secara singkat termasuk kiprahnya membangun gerakan koperasi di Indonesia:

- Berkali-kali menjalani masa pembuangan

Hatta pernah menjalani masa pembuangan di Tanah Merah Boven Digoel di pedalaman Papua, sebuah tempat pengasingan tahanan politik yang didirikan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1927. Selama 10 bulan Hatta berada di daratan yang dikepung rawa-rawa itu.

Ia kemudian dibuang ke Pulau Banda Neira, Maluku pada 1936. Hatta meninggalkan Banda pada 1 Februari 1942. Setelah Indonesia merdeka pun Hatta kembali mengalami masa pembuangan. Pasca agresi militer Belanda II pada Desember 1948, Hatta dan sejumlah pemimpin republik diasingkan ke Mentok, Pulau Bangka sampai Juli 1949.


- Kaul Hatta tak menikah sebelum Indonesia merdeka

Meutia Farida Hatta dalam buku Seratus Tahun Bung Hatta menuliskan fokus Hatta muda memang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bahkan, dia sempat bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Akhirnya usai kemerdekaan, Hatta menjatuhkan pilihannya pada Rahmi, putri pasangan Abdul Rachim dan Anni.

Abdul Rachim juga merupakan kawan dekat Bung Karno. Sukarno juga yang mendatangi rumah keluarga Abdul Rachim dan melamarkan Rahmi untuk Hatta. Pernikahan kemudian digelar pada 18 November 1945, di sebuah villa di Megamendung, Bogor. Sebagai mas kawin, Hatta memberikan buku yang ditulisnya saat dibuang di Digul pada 1934, Alam Pikiran Yunani.

Pasangan Mohammad Hatta dan Rahmi dikaruniai tiga orang anak peremouan. Meutia, Gemala Ra'biah, dan Halida.

- Naik haji dengan uang hasil menulis buku

Sekretaris pribadi Hatta, Iding Wangsa Wijaya menuliskan pengalamannya mendampingi proklamator saat perjalanan menunaikan ibadah haji pada Juli 1952 dalam bukunya Mengenang Bung Hatta. Kala itu Bung Hatta mengajak sekretarisnya, istrinya, Rahmi Hatta dan dua saudara perempuannya.

Presiden Sukarno sebenarnya menawarkan rombongan Hatta menggunakan pesawat terbang dengan biaya yang ditanggung pemerintah. Hatta menolak tawaran itu. "Bung Hatta menginginkan agar keberangkatannya menunaikan ibadah haji bukan dalam kedudukannya sebagai wakil presiden, melainkan sebagai rakyat biasa," kata Wangsa.

Wangsa Wijaya menuturkan seluruh biaya berasal dari kantong pribadi Bung Hatta. "Saya masih ingat benar, bahwa kami semua diberangkatkan Bung Hatta dengan uang hasil honorarium buku yang terbit di Belanda," ujar Wangsa. Buku itu berjudul Verspeide Geschriften berisi kumpulan karangan Bung Hatta dalam bahasa Belanda. Bung Hatta juga memperoleh honorarium penerbitan beberapa buku di Indonesia. Honor yang terkumpul terbilang besar untuk untuk ukuran masa itu.

-Belajar koperasi sampai ke Denmark

Saat menuntut ilmu di Belanda, Hatta sudah memiliki pemikiran bahwa koperasi merupakan salah satu alat untuk membangun dan meningkatkan perekonomian rakyat Indonesia. Zulfikri Suleman dalam buku Demokrasi untuk Indonesia: Pemikiran Politik Bung Hatta menyebut untuk mematang konsep koperasi Hatta bersama kawannya Samsi pada 1925 mengunjungi Denmark dan negara Skandinavia mempelajari masalah perkoperasian.


- Retaknya hubungan dengan Bung Karno

Hatta marah besar saat Sukarno memutuskan berpaling dari Fatmawati dan menikahi Hartini pada Januari 1953. Dia tak dapat menerima Bung Karno menduakan Fatmawati. Bertahun-tahun Hatta memilih menghindari pertemuan dengan Hartini.

Puncak perseteruan dua sahabat ini terjadi pada 1956, ketika Sukarno mencanangkan Demokrasi Terpimpin dan ingin membubarkan semua partai politik. Hatta mengecam konsep itu dengan menyebutnya bentuk kediktatoran. Tanggal 20 Juli 1956, Hatta akhirnya mengirimkan surat ke DPR yang berisi permintaan mundur dari jabatan wakil presiden.

- Diberi gelar Bapak Koperasi Indonesia

Sebagai seorang ahli ekonomi, Hatta aktif memberi ceramah dan menulis berbagai artikel bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga berperan mendorong gerakan koperasi di Indonesia. Saat Hari Koperasi di tahun 1951 Hatta memberikan pidato di RRI yang berbunyi.

"Apabila kita membuka UUD 45 dan membaca serta menghayati isi pasal 38, maka nampaklah di sana akan tercantum dua macam kewajiban atas tujuan yang satu. Tujuan ialah menyelenggarakan kemakmuran rakyat dengan jalan menyusun perekonomian sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Perekonomian sebagai usaha bersama dengan berdasarkan kekeluargaan adalah koperasi, karena koperasilah yang menyatakan kerja sama antara mereka yang berusaha sebagai suatu keluarga."

"Di sini tak ada pertentangan antara majikan dan buruh, antara pemimpin dan pekerja. Segala yang bekerja adalah anggota dari koperasinya, sama-sama bertanggung jawab atas keselamatan koperasinya itu. Sebagaimana orang sekeluarga bertanggung jawab atas keselamatan rumah tangganya, demikian pula para anggota koperasi sama-sama bertanggung jawab atas koperasi mereka. Makmur koperasinya, makmurlah hidup mereka bersama, rusak koperasinya, rusaklah hidup mereka bersama."

Atas jasa-jasanya dan pemikirannya, pada saat Kongres Koperasi Indonesia di Bandung, Jawa Barat tanggal 17 Juli 1953, Hatta diberi gelar Bapak Koperasi Indonesia. Di Hari Koperasi yang jatuh pada 12 Juli ini tak ada salahnya mengenang biografi Moh Hatta, sosok yang banyak berjasa dalam menghidupkan koperasi di Indonesia.

(pal/erd)