Musim Tanam di Sumsel
Lumbung Pupuk, Langka Pupuk
Kamis, 29 Des 2005 19:01 WIB
Palembang - Cita-cita Gubernur Sumatra Selatan Syahrial Oesman mewujudkan daerahnya sebagai lumbung pangan nasional tampaknya perlu dikaji ulang. Sebab saat musim tanam tiba, eh malah terjadi kelangkaan pupuk.Ironisnya, di Sumsel terdapat pabrik pupuk terbesar di Indonesia yakni PT Pupuk Sriwijaya yang berada di tepian sungai Musi, Palembang. Kelangkaan pupuk terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang merupakan daerah lumbung beras di Sumsel dan Musi Banyuasin. Diduga kelangkaan pupuk ini terjadi lantaran kecilnya kuota yang diberikan PT Pupuk Sriwijaya."Dugaan itu kita peroleh dari lapangan. Baik dari pemakai maupun distributor," kata Kasi Sarana, Prasarana dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten OKU, Dainal Wajedi, di kantornya, Kota Baturaja, Sumatra Selatan, Kamis (29/12/2005).Dijelaskannya, di Kabupaten OKU ada dua distributor pupuk yakni Koperasi Unit Desa (KUD) Kerjasama dan Perusahaan Dagang Jaya Agung. Namun, yang masih aktif hanya KUD Kerjasama. Dan setiap satu tahunnya KUD Kerjasama hanya memasarkan 1.085 ton pupuk urea ke para petani.Padahal, kebutuhan pupuk di OKU setiap tahunnya 12 ribu ton pupuk urea. Sedangkan pupuk KCl dan SP36 masing-masing sebanyak 10 ribu ton per tahun. "Kami pernah minta tambahan sebesar 3.004 ton per tahun. "Sekarang ini, ya, kami hanya menunggu dari PT Pusri," ujar Zainal.Sebelumnya di Kabupaten Musi Banyuasin yang memiliki 70.229 hektare lahan pertanian, pupuk yang disalurkan penyalur kepada petani sekitar 23.937 ton untuk jenis urea dan KCl. "Jatah pupuk sebanyak itu terasa kurang," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Musi Banyuasin NellyRasdiana.Menurut Nelly, kebutuhan pupuk urea dan KCl untuk tanaman padi sekitar 200 kilogram pupuk per hektare, jagung 250 kilogram per hektare, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau membutuhkan pupuk 75 kilogram per hektare, ubi kayu dan ubi jalar membutuhkan pupuk 300 kilogram per hektare.Guna mengatasi kelangkaan pupuk, Dinas Pertanian dan Peternakan Musi Banyuasin sudah mengajukan permintaan pupuk kepada Pemerintah Sumsel buat tahun 2006 lebih besar dibanding tahun 2005, yakni sebesar 31.640 ton untuk lahan pertanian seluas 73.191 hektar.Sedangkan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur yang juga menjadi sentra beras di Sumatra Selatan saat ini hanya menerima 25 ribu ton pupuk dari PT Pusri. Padahal kebutuhan sekitar 40 ribu ton per tahun,Kepala Dinas Pertanian OKU Timur Tubagus Sunarseno mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi masalah kelangkaan pupuk ini. Mereka hanya menyarankan para petani menggunakan pupuk organik atau bogasi untuk mengatasi kelangkaan pupuk ini. "Kita juga berencana pada tahun 2006 ini akan menambah kuota pupuk menjadi 47 ribu ton per tahun," katanya.Sebagai informasi, harga pupuk pupuk urea yang disubsidi di tangan para petani, yang seharusny per kilogram sebesar Rp 1050, dijual menjadi Rp 1500. Sedangkan SP36 harga subsidi per kilogram Rp 1400 dijual menjadi Rp 2.000.Stok AmanSebelumnya Direktur Utama PT Pupuk Sriwijaya Dadang Heru Kodrimenyatakan stok pupuk untuk Sumsel tetap aman. "Sekarang saja di gudang masih ada stok pupuk sebanyak 10 ribu ton. Jadi, petani jangan khawatir," katanya menjawab pertanyaan wartawan.Dijelaskan Dadang, untuk memenuhi kebutuhan pupuk di Sumsel dan nasional, PT Pupuk Sriwijaya selama tahun 2005 memproduksi 2 juta ton. Sedangkan estimasi kebutuhan pupuk secara nasional jauh di bawah angka tersebut.Dengan banyaknya permintaan pupuk, apakah akan ada penambahan produksi pada 2006? "Saya rasa tidak. Selain karena mesinnya sudah tua dan ada sikliknya, pada tahun 2006 juga sudah dijadwalkan perbaikan terhadap tiga pabrik. Namun, saya pastikan produksi pupuk tidak akan terganggu karenanya," katanya.
(gtp/)











































