Ancaman Pembunuhan Terhadap Presiden Diragukan
Kamis, 29 Des 2005 16:09 WIB
Jakarta - Gembar-gembor sejumlah petinggi negara yang melansir presiden dan wakil presiden diancam akan dibunuh teroris diragukan kebenarannya. Pasalnya, analisa Badan Intelijen Negara (BIN) belum teruji kebenarannya."Saya meragukan informasi BIN mengenai ancaman para pejabat, termasuk presiden dan wapres. Informasi itu perlu dianalisa kembali, karena belum teruji. Kalau memang ada, ya sudah, cukup lapor presiden saja. Tidak usah dipublikasikan," cetus anggota Komisi I DPR Ade Nasution.Hal ini disampaikan dia kepada wartawan di Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (29/12/2005).Menurut Ade, pernyataan BIN justru semakin memperburuk citra Indonesia dalam bidang keamanan. Akibatnya akan berpengaruh pada iklim investasi di Indonesia."Keterangan intelijen itu mesti menyejukkan. Jangan bikin pusing. Kalau memang ada ancaman betul, jaga para pejabat. Tak usah diumumkan. Karena kerja BIN menganalisa informasi," kata politisi PBR ini.Pengamanan terhadap presiden dan wakil presiden dinilainya sudah cukup, karena saat ini keamanan presiden dan wakil presiden sudah dijaga oleh 3 batalyon yang setiap saat melindungi presiden, wakil presiden dan keluarga."Tiga batalyon kan sudah 2.000 orang lebih. Masak kurang. Apalagi kalau sudah jadi presiden, ya siap menerima risiko apa pun," ujar Ade.Menurut Ade, BIN saat ini masih terpengaruh dengan mental-mental Orde Baru, karena sisa-sisa orang Soeharto masih banyak, sehingga BIN tidak mau terbuka. "Seharusnya kalau membuat pernyataan mesti jelas apa dasarnya," katanya.Ditanya apakah pernyataan ini bertujuan agar anggaran BIN naik, menurut Ade, anggaran BIN sudah banyak. Tahun 2005 sekitar Rp 900 miliar dan tahun 2006 sudah naik menjadi Rp 1 triliun. "Jadi saya kira BIN harus bekerja lebih profesional," tandas Ade.
(jon/)











































