Mahasiswa Asing di AS Terancam Dideportasi, Kemlu Koordinasi dengan Kampus

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Jumat, 10 Jul 2020 18:51 WIB
Divers group of high school of college graduates smiling during the graduation ceremony. They are standing in a row.
Ilustrasi mahasiswa / Foto: iStock
Jakarta -

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan kebijakan yang berpotensi mendeportasi mahasiswa asing yang berkuliah di negara itu. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengatakan telah melakukan koordinasi ke kampus setempat agar tetap menyediakan kelas tatap muka atau hybrid.

Direktur PWNI dan BHI Kemlu Judha Nugraha menjelaskan dalam kebijakan itu, pelajar dan mahasiswa asing tidak dapat mengambil kelas online secara penuh atau full online course. Menurut Judha, bagi mahasiswa asing yang tidak melakukan kelas secara tatap muka maka dapat dideportasi dari AS.

"Jadi sebagaimana kita ketahui bersama pemerintah Amerika Serikat baru saja menerapkan kebijakan baru mengenai pelajar mahasiswa asing yang ada di Amerika Serikat di mana pada intinya pelajar dan mahasiswa asing tidak dapat mengambil full online course. Jadi tidak dapat mengambil full online course melainkan harus memiliki kelas tatap muka ataupun kelas campuran atau Hybrid. Jika tidak dapat mengikuti kegiatan tatap muka maka konsekuensinya akan ada tindakan keimigrasian termasuk diminta untuk meninggalkan Amerika Serikat," kata Judha dalam telekonferensi pada Jumat (10/7/2020).

Menanggapi kebijakan tersebut, Judha mengatakan Kemlu telah melakukan koordinasi dengan pihak kampus setempat guna tetap menyediakan perkuliahan tatap muka. Dia juga mengatakan perwakilan Kemlu akan terus melakukan koordinasi dengan mahasiswa guna memberikan langkah-langkah perlindungan bagi mahasiswa tersebut.

"Lalu juga perwakilan kita sudah koordinasi dengan berbagai macam kampus untuk meminta tanggapan dari pihak kampus mengenai kebijakan Amerika Serikat termasuk kemungkinan apakah akan mengadakan kelas yang sifatnya tatap muka in person class atau kelas yang sifatnya hybrid," ungkapnya.

Selain itu, Judha meminta agar seluruh mahasiswa Indonesia di AS agar tetap tenang. Dia mengimbau agar setiap mahasiswa yang mengalami keslitan segera menghubungi perwakilan RI yang terdekat.

"Lalu perwakilan kita juga sudah menyampaikan imbauan kepada seluruh pelajar dan mahasiswa kita di Amerika Serikat untuk tetap tenang dan kemudian segera menghubungi perwakilan kita jika menghadapi permasalahan," ucap Judha.

Juhda mengatakan sudah ada beberapa kampus di AS yang telah mengajukan tuntutan atas kebijakan tersebut. Menurut Judha, kampus-kampus tersebut juga meminta agar kebijakan tersebut dicabut pemerintah AS.

"Kami juga mencatat bahwa berbagai macam kampus yang ada di Amerika Serikat sudah mengajukan tuntutan kepada pemerintah federal Amerika Serikat agar segera mencabut kebijakan tersebut. Kampus-kampus juga berupaya untuk diri dengan menyediakan kelas-kelas yang sifatnya in person class maupun kelas yang sifatnya hybrid," kata Judha.

Sebelumnya diberitakan, dua kampus bergengsi di AS, Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengambil tindakan hukum terhadap pemerintah AS atas aturan imigrasi yang mengancam mahasiswa asing dideportasi. Harvard dan Massachusetts Institute of Technology mengajukan gugatan terhadap Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE).

Dalam kebijakan baru itu, para mahasiswa asing tidak diperbolehkan tinggal di AS pada awal tahun akademik baru pada musim gugur ini jika kampus-kampus sudah sepenuhnya menerapkan perkuliahan daring, kecuali jika mereka beralih mengambil kuliah tatap muka dengan biaya khusus.

(imk/imk)