Kemendikbud Ungkap Masalah Belajar Daring, Ancaman Putus Sekolah Ada di Papua

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 15:24 WIB
Salah satu metode belajar online di saat sekolah diliburkan untuk pencegahan Corona (dok. Istimewa)
Foto ilustrasi belajar daring. (dok. Istimewa)
Jakarta -

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga menggelar survei kepada guru, kepala sekolah, orang tua, dan para siswa terkait evaluasi belajar dari rumah. Hasilnya, mayoritas siswa mengalami hambatan dan kesulitan dalam memahami pelajaran.

"Mayoritas mengalami kesulitan memahami pelajaran, kurang konsentrasi, tidak dapat bertanya langsung kepada guru, sehingga kebiasaan-kebiasaan dari tatap muka bisa interaksi langsung, memahami mata pelajaran langsung dari guru, ketika belajar dari rumah itu membutuhkan perjuangan yang cukup tinggi. Dan anak memang mengaku kesulitan memahami pelajaran ini cukup banyak," kata Kepala Balitbang Kemendikbud Totok Suprayitno dalam rapat dengan Komisi X DPR, Kamis (9/7/2020).

Anak-anak perempuan mengaku lebih kesulitan dalam pembelajaran daring, meskipun anak perempuan dinilai memiliki kemampuan belajar mandiri lebih baik dibandingkan anak laki-laki. Para siswa, disebut Totok, mayoritas juga tidak setuju dengan metode belajar jarak jauh.

"Persepsi siswa tentang belajar dari rumah ini pada umumnya tidak setuju. Mayoritas tidak setuju. Konsisten dengan mahasiswa tadi, mereka tetap lebih senang belajar tatap muka di sekolah, meski kalau laki-laki lebih dari 40 persen bahwa belajar dari rumah lebih menyenangkan," ujarnya.

Tonton juga 'Jokowi: Kuliah Daring Lambat Dijalankan, Sekarang Jadi New Normal':

[Gambas:Video 20detik]

Selain itu, Totok mengungkapkan ada kekhawatiran dari para guru di Papua soal belajar jarak jauh. Para guru khawatir para siswa tidak mau lagi kembali ke sekolah setelah metode belajar dari rumah (BDR) ini.

"Yang kami terima informasi dari Papua ketakutan akan kemungkinan putus sekolah. Para guru khawatir setelah BDR ini anak tidak kembali lagi ke sekolah. Ini salah satu isu kebijakan yang perlu kita tangani atau kita cegah sebelum ancaman putus sekolah ini betul-betul terjadi," ungkap Totok.

Selanjutnya
Halaman
1 2