Jokowi Ngegas Menteri Lagi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 10:23 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Pertengahan Juni lalu, Presiden Jokowi menegur keras para menterinya karena merasa tidak puas atas kinerja di tengah pandemi COVID-19. Kata reshuffle pun keluar dari mulut sang kepala negara langsung. Isu ini sempat direm 'tangan kanan' Jokowi, tapi kini para menteri kembali kena semprot.

Teguran keras Jokowi ke para menteri pada 18 Juni 2020 disampaikan dalam sidang kabinet paripurna. Jokowi meminta kerja luar biasa, bukan biasa-biasa saja dari para pembantunya.

Dengan nada meninggi dan kalimat yang ditekankan, Jokowi mengaku sudah kepikiran ke mana-mana karena kerja menterinya ini dianggapnya just so-so alias biasa saja. Ancaman reshuffle pun disemburkan Jokowi langsung di hadapan para menteri.

"Langkah apa pun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita. Untuk negara. Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya," kata Jokowi dalam video yang ditayangkan Setpres pada Minggu (28/6/2020).

Isu liar reshuffle menggelinding dengan sendirinya setelah pernyataan keras Jokowi. Dalam tegurannya, Jokowi menyentil belanja kementerian yang dinilainya masih sangat rendah.

"Untuk pemulihan ekonomi nasional, misalnya saya beri contoh. Bidang kesehatan, tuh dianggarkan Rp 75 T. Rp 75 T, baru keluar 1,53 persen coba. Uang beredar di masyarakat ke-rem ke situ semua. Segara itu dikeluarkan dengan penggunaan-penggunaan yang tepat sasaran. Sehingga men-trigger ekonomi. Pembayaran tunjangan untuk dokter, dokter spesialis, untuk tenaga medis, segera keluarkan. Belanja-belanja untuk peralatan segera keluarkan. Ini sudah disediakan 70-an triliun seperti itu," beber Jokowi.

"Bansos yang ditunggu masyarakat segera keluarkan. Kalau ada masalah lakukan tindakan-tindakan lapangan. Meskipun sudah lumayan, tapi baru lumayan. Ini extraordinary, harusnya 100 persen," Jokowi menambahkan.

Hingga bulan berganti, belum ada kebijakan reshuffle yang diwujudkan Jokowi. Isu ini kemudian ditahan oleh Mensesneg Pratikno.

"Dalam waktu yang relatif singkat, kita melihat progres yang luar biasa di kementerian/lembaga, antara lain bisa dilihat dari serapan anggaran yang meningkat, program-program yang sudah mulai berjalan. Artinya, teguran keras tersebut punya arti yang signifikan," kata Pratikno saat menjawab pertanyaan soal reshuffle, yang disiarkan di saluran YouTube Sekretariat Presiden, Senin (6/7).

Namun, kini Jokowi kembali menyentil menteri-menterinya. Jokowi menilai work from home atau WFH saat pandemi COVID-19 malah membuat para menteri bak sedang cuti.

"Saya minta kita memiliki sense yang sama. Sense of crisis yang sama. Jangan sampai 3 bulan yang lalu kita menyampaikan bekerja dari rumah, work form home. Yang saya lihat ini kayak cuti malahan. Padahal pada kondisi krisis kita harusnya kerja lebih keras lagi," kata Jokowi, seperti dilihat detikcom, Kamis (9/7).

Pernyataan itu disampaikan Jokowi dalam rapat terbatas bersama menteri dan kepala lembaga negara mengenai 'Percepatan Penyerapan Anggaran di 6 Kementerian/Lembaga' pada Selasa (7/7) lalu. Video itu kemudian diunggah dalam kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (8/7) kemarin.

"Jangan kerja biasa-biasa saja. Kerja lebih keras dan kerja lebih cepat. Itu yang saya inginkan pada saat kondisi seperti ini. Membuat permen yang biasanya dua minggu yang sehari selesai. Buat PP yang biasanya sebulan ya dua hari selesai. itu loh yang saya inginkan," tutur Jokowi.

Lalu, apa maksud Jokowi kembali ngegas ke para menterinya ini?

(gbr/van)