Round-Up

Romansa Salah Kaprah di Balik Pernikahan Pria 44 Tahun dengan Bocah

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 22:01 WIB
Pernikahan antara B (44) yang menikahi gadis yang masih 12 tahun di Pinrang, Sulsel (dok. Istimewa).
Foto: Pernikahan antara B (44) yang menikahi gadis yang masih 12 tahun di Pinrang, Sulsel (dok. Istimewa).
Jakarta -

Gadis 12 tahun berinisial NS di Pinrang, Sulawesi Selatan sempat kabur dari rumah saat keluarganya dua kali menolak lamaran pujaan hatinya B (44). Keluarga akhirnya merestui pernikahan sejoli itu.

Pernikahan beda usia itu terungkap setelah viral di media sosial. Kapolsek Suppa AKP Chandra mengatakan pernikahan itu berlangsung pada 30 Juni 2020. Mempelai perempuan adalah warga Kecamatan Suppa, Pinrang.

"Tanggal 30 Juni, iya benar itu, perempuan 12 tahun," kata Chandra saat dimintai konfirmasi detikcom, Selasa (7/7/2020).



Sementara itu, mempelai pria adalah warga Makassar. Dia berprofesi sebagai terapis pijat.

Berikut perjalanan romansa salah kaprah N dan B hingga naik ke pelaminan:



Pernikahan di Tengah Pandemi Corona

Kapolsek Suppa AKP Chandra mengatakan pernikahan itu berlangsung pada 30 Juni 2020. Mempelai perempuan adalah warga Kecamatan Suppa, Pinrang.

Chandra mengatakan pernikahan berlangsung di rumah mempelai perempuan. Pernikahan digelar sederhana karena dalam masa pandemi.

"Iya berlangsung sederhana karena pandemi COVID ini belum bisa ramai," ujarnya.

Chandra mengatakan yang menikahkan adalah kakak mempelai perempuan. Sebab, dia tinggal bersama ibu kandung dan bapak tiri.

"Si perempuan ini tinggal sama ibu kandung sama bapak tiri, sementara bapak tiri tidak berhak menikahkan," ujarnya.



Keluarga Tolak Lamaran, Gadis 12 Tahun Kabur

Pernikahan antara pria asal Makassar, B (44) dengan gadis 12 tahun di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) awalnya ditolak keluarga mempelai wanita. Namun, kepala desa setempat, Darmawan mengatakan gadis usia 12 tahun itu ngambek dan sempat kabur dari rumah.

"Saya selaku kepala desa pada saat itu ada keluarganya yang datang ke Kantor Desa untuk meminta pengantar pernikahan ke KUA, namun saya selaku kepala desa di sini bertanya, kok begini, ini kan anak di bawah umur," ujar Darmawan saat ditemui di kantor desa di Kecamatan Suppa, Pinrang, Selasa (7/7/2020).

Kepada Darmawan, keluarga mempelai wanita mengaku sudah menolak lamaran B (44) sebanyak 2 kali. Namun saat lamaran B ditolak, anak perempuan mereka mengancam akan meninggalkan rumah jika lamaran pria pujaan hatinya itu tetap ditolak keluarga.

"Dan kata keluarga, 'memang benar Pak Kepala Desa, dia tinggalkan rumah dan 3 hari baru ditemukan," imbuhnya.

Setelah anak perempuan usia 12 tahun itu ditemukan, keluarga kemudian melakukan musyawarah. Hasilnya, keluarga memutuskan menikahkan putrinya dengan B.

"Daripada nanti ada apa-apa (kejadian yang tidak diinginkan) di luar, kami juga juga selaku orang tua pasti malu. Jadi apa boleh buat kami langsungkan pernikahan ini, walaupun kami selaku orangtua sangat menyayangkan anak kami, tapi apa boleh buat," kata Darmawan sembari menirukan ucapan pihak keluarga perempuan kepadanya.



Darmawan mengatakan, selaku aparat desa pihaknya sudah menyarankan agar pihak keluarga tidak menikahkan anak perempuannya yang masih di bawah umur. Namun dengan pertimbangan keluarga, pernikahan itu tetap dilangsungkan pada Selasa 30 Juni lalu.

"Karena memang ini anaknya yang mengancam, kalau tidak dilaksanakan pernikahan ini mau kawin lari," imbuhnya.



Sempat Ditolak Keluarga Wanita

Pernikahan antara gadis usia 12 tahun dengan seorang pria B (44) di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) sempat ditolak keluarga. Kondisi mempelai pria yang tidak sempurna atau tunanetra menjadi alasannya.

"Datang melamar pertama kali ditolak, yang keduanya ditolak, karena kita tahu toh bagaimana orangnya (mempelai pria) tidak sempurna begitu (tunanetra)," ujar ibu kandung gadis usia 12 tahun tersebut saat ditemui di rumahnya di Kecamatan Suppa, Pinrang, Selasa (7/7/2020).

Sitti menyebut putrinya pertama kali bertemu dengan B saat ada acara pengantin di dekat rumahnya. Hubungan itu terus berlanjut saat B yang juga seorang terapis sering mengobati seseorang yang juga keluarga gadis usia 12 tahun tersebut.

Hubungan keduanya kemudian berlanjut serius hingga B datang melamar ke keluarga gadis 12 tahun itu. Setelah ditolak 2 kali, lamaran B kemudian diterima keluarga istrinya.

"Datang lagi (setelah 2 kali ditolak) ya diterima lah, karena si anak ini tinggalkan rumah ada beberapa hari, sekitar 3 hari, terus pergi lagi. Jadi takutnya kita ini anak nanti hamil, jadi kita rembukkan untuk secepatnya (dinikahkan)," tuturnya.



Keluarga juga khawatir jika putrinya nekat kabur ke rumah pria pujaan hatinya di Kota Makassar.

"Tidak sampai ji lari ke Makassar, cuma kita khawatir (kabur ke Makassar), daripada nanti terjadi apa-apa, segera lah pernikahannya," imbuhnya.

Dihubungi terpisah, Kapolsek Suppa AKP Chandra menyebut B merupakan seorang pria yang tunanetra. "Infonya hanya sebelah mata," ucap Chandra.

Takut Kabur hingga Bunuh Diri

Keluarga mengaku tetap menikahkan gadis 12 tahun dengan B (44) karena takut mempelai wanita kabur.

"Pada saat itu sempat ditanya ini sampai menikah, alasannya anak ini takutnya lari atau bunuh diri," kata Kapolsek Suppa AKP Chandra saat dihubungi, Selasa (7/6/2020).

Sebab menurut keluarga, kata Chandra, desakan untuk menikah itu datang dari mempelai wanita. Pernikahan lalu digelar secara siri di kediaman mempelai wanita pada 30 Juni 2020.

"Karena si perempuan ini yang mendesak ingin menikah," ujarnya.



Tim Gabungan Turun Tangan Selidiki

Lembaga Perlindungan Anak dan Dinas Sosial Pinrang menyelidiki pernikahan gadis 12 tahun dengan pria 44 tahun.

"Untuk lebih jauh, dari pihak perlindungan anak dan Dinas Sosial Pinrang telah kita ketemu, koordinasikan, dia lakukan investigasi lebih lanjut," ujar Kapolsek Suppa AKP Chandra Hasan saat dimintai konfirmasi, Selasa (7/7/2020).

Hasil penyelidikan itu belum diungkap. Namun Chandra menyebut penyelidikan telah dilakukan dengan berkoordinasi ke KUA Kecamatan Suppa dan Kantor Desa setempat.

"Hasilnya kita belum tahu sampai saat ini. Saya lupa hari apa itu, investigasi itu datang perlindungan anak bersama staf dinas sosial, mereka menindaklanjuti ke kantor KUA dan kantor desa," ucap Chandra.

Awal Perkenalan dan Mahar Rp 20 Juta

Meski sempat ditolak 2 kali oleh keluarga perempuan, lamaran pria asal Kota Makassar, B (44), kepada seorang gadis usia 12 tahun di Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), akhirnya diterima. Uang panaik atau mahar pernikahan itu sebesar Rp 20 juta.

"Uang panaiknya (mahar) Rp 20 juta, itu disepakati pada lamaran ketiga," ujar ibu kandung gadis 12 tahun tersebut saat ditemui detikcom di rumahya, di Kecamatan Suppa, Pinrang, Selasa (7/7/2020).



Ibu mempelai wanita menegaskan pernikahan putri bungsunya dengan B didasari suka sama suka. Keduanya sempat pacaran selama 5 bulan lewat video call.

"Awal perkenalan keduanya saat ada acara hajatan di depan rumah, kebetulan masih keluarga dengan B. Keduanya rutin berkomunikasi lewat Video Call selama 5 bulan, setelah itu, B datang melamar tapi ditolak. Dua kali melamar, dua kali juga ditolak," imbuhnya.

Namun pernikahan pasangan yang terpaut usia 32 tahun itu berlangsung tanpa izin KUA karena usia mempelai wanita masih 12 tahun.

Sementara itu, kepala desa setempat, Darmawan, mengatakan pihaknya sudah berusaha melarang warganya itu untuk menikahkan putrinya. Namun keluarga memiliki pertimbangan lain sehingga tetap menikahkan putrinya.

"Seandainya ada aturannya, pasti kami tolak, dan memang sudah kami wanti-wanti kepada pihak keluarga, namun menurut pengakuan mereka si anak ini yang ngotot untuk menikah dengan pria pilihannya, takut ada bagaimana-bagaimana," kata Darmawan ditemui terpisah.

Darmawan mengaku aktivis perlindungan anak dari kabupaten hingga provinsi telah mengunjungi rumah mempelai wanita itu.

"Terakhir tadi pagi, namun pengantin ini masih berada di Makassar, kebetulan katanya ada kerabat dari pengantin pria yang meninggal," tuturnya.



Ditolak KUA, Menikah Siri

Pernikahan antara B (44) dengan gadis 12 tahun di Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) digelar secara siri.

"Begini, sesuai data yang diperoleh bahwa yang bersangkutan meminta surat pengantar dari kantor desa 9 Juni 2020, mengurus surat pengantar dari desa untuk ke kantor KUA. Pengakuan mereka ditolak, setelah ditolak, kakak di perempuan ini mengambil alih pernikahan sendiri," kata Kapolsek Suppa AKP Chandra saat dihubungi, Selasa (7/6/2020).



Pernikahan keduanya digelar di rumah mempelai wanita di Kecamatan Suppa, Pinrang, Sulsel pada 30 Juni 2020. Yang menikahkan yakni kakak mempelai wanita.

"Setelah ditolak, kakak di perempuan ini mengambil alih pernikahan sendiri. Jadi pada tanggal 30 itu setelah pengakuan mereka ditolak, dinikahkan oleh kakaknya. Iya berlangsung sederhana karena pandemi COVID ini belum bisa ramai," ujarnya.

Chandra mengatakan kakak mempelai perempuan menikahkan keduanya karena mereka tinggal bersama bapak tiri. "Si perempuan ini tinggal sama ibu kandung sama bapak tiri, sementara bapak tiri tidak berhak menikahkan," ucapnya.

(aan/idn)