Survei Denny JA: 84% Warga Zona Merah Khawatirkan Kebutuhan Pokok!

Zunita Putri - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 16:29 WIB
Poster
Foto ilustrasi oleh Edi Wahyono
Jakarta -

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis survei tentang kecemasan publik di lingkaran zona merah Corona (COVID-19). Hasilnya, ada 84,2 persen masyarakat khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok.

Angka 84,2 persen ini didapat dari hasil pertanyaan 'Seberapa Ibu/Bapak khawatir apabila tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari akan menimpa Ibu/Bapak? Apakah sangat khawatir, khawatir, tidak khawatir atau sangat tidak khawatir?'

Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan jumlah responden 8.000. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner dengan margin of eror +- 2,05 persen, waktu survei 8 hingga 15 Juni 2020.

"Tingkat kekhawatiran publik bahwa mereka tak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari juga berada di zona merah. Sebanyak 84,2 % publik menyatakan bahwa saat ini mereka sangat/cukup khawatir, dan hanya sebesar 15,1 % yang menyatakan tidak khawatir/sangat tidak khawatir. Sedangkan yang tidak tahu atau tidak menjawab ada 0,7%," ujar peneliti LSI, Ardian Sopa, Selasa (7/7/2020).

Ardian merinci, mayoritas yang merasa khawatir itu masyarakat yang memiliki penghasilan di bawah Rp 1,5 juta. Dan yang berada di paling bawah tingkat khawatirnya di kalangan penghasilan di atas Rp 4,5 juta. Ardian menilai baik penghasilan tinggi atau rendah merasa khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya di tengah pandemi.

"Kekhawatiran terhadap kebutuhan yang paling pokok yaitu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari juga dirasakan oleh mereka yang dikategorikan kelas ekonomi menengah atas. Sebanyak 67,7 % publik menyatakan bahwa mereka khawatir tak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan sebesar 31,5 % yang menyatakan tidak khawatir," katanya.

Sementara di kelas pendidikan, hasil survei menunjukkan masyarakat yang berpendidikan lulus SD atau SMP memiliki tingkat khawatir yang tinggi. Lulusan SMP hingga yang mengatakan pernah kuliah juga menurut Ardian merasa khawatir juga, mereka memiliki tingkat khawatir 80 hingga 70 persen.

Selanjutnya
Halaman
1 2