Al-Ta'lim Al-Muta'allim (18)

Teomorfisme Manusia (1)

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/Nasaruddin Umar
Jakarta -

Manusia sebagai hewan berfikir (al-isan nhayawan al-nathiq) sudah lama menjadi perdebatan konseptual para filosof, teolog, dan sufi. Inti perdebatannya ialah keberadaan roh di dalam diri manusia. Para filosof dan teolog mengakui manusia memiliki dua dimensi, lahir, dan batin atau jasad dan roh, namun mereka masih tetap menempatkan roh manusia sebagai bagian inhaeren bagi manusia. Roh adalah bagian kelengkapan diri manusia sebagai makhluk utama Tuhan, namun cenderung menolak Roh sebagai unsur suci Tuhan yang masuk di dalam diri manusia. Manusia tetap sepenuhnya makhluk dan harus mampu mempertanggung jawabkan seluruh ikhtiyar dan perbuatannya.

Kalangan sufi cenderung menganggap roh dalam diri manusia sebagai unsur suci (Lahut) yang terselip di dalam diri manusia. Roh ini kemudian bukan hanya menempatkan manusia sebagai makhluk istimewa tetapi manusia dianggap sebagai madhhar, tajalli, atau manifestasi Tuhan. Manusia dianggap sebagai mikrolosmos, miniatur alam semesta. Bahkan manusia juga dianggap sebagai insan kamil.

Menurut Ibn 'Arabi, manusia diciptakan berdasarkan apa mau Tuhan kepada manusia, bukan berdasarkan apa maunya manusia pada dirinya sendiri. Dengan mengutip banyak ayat dan hadis, Ibnu 'Arabi seolah menganggap manusia bukan hanya sebagai mikrokosmos tetapi sebagai "cermin" Tuhan, dengan mengutip hadis: "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam berdasarkan shurah-Nya". Allah sendiri memerintahkan para makhluknya untuk sujud kepada Adam pasca peng-install-an roh ke dalam diri Adam, sebagaimana disebutkan dalam ayat:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ


"(Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir". (Q.S. al-Baqarah/2:34).

Allah Swt juga menyatakan sendiri telah memuliakan anak-anak cucu Adam, sebagaimana ditegaskan dalam ayat:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا


"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Q.S. al-Isra'/17: 70).


Manusia pasti jauh berbeda dengan binatang, hewan, dan makhluk-makhluk lainnya, termasuk jin dan malaikat. Manusia dipilih sebagai representative (khalifah) di muka bumi sudah cukup menjadi bukti bahwa manusia lebih dari sekedar makhluk. Paling tidak, Roh yang diintol masuk ke dalam diri Adam adalah unsur Tuhan sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur'an:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Q.S. al-Hijr/15:29).

Roh inilah kemudian yang membuat para malaikat dan makhluk lainnya selain Iblis sujud kepada manusia. Lebih lanjut Ibn 'Arabi menjelaskan di dalam kitab Futuhat al-Makkiyah-nya bahwa bukan hanya roh, tetapi substansi jiwa manusia juga diciptakan mengikuti asma' dan sifat Allah Swt. Nama-nama dan sufat Allah Swt memiliki dua komponen penting, yaitu ketegaran/kejantanan (jalaliyyah/masculinity/Yang) dan kelembutan (jamaliyyah/femininity/Yin). Tidak ada makhluk lain yang mampu merepresentasikan kapasitas Tuhan selain manusia. Malaikat hanya merepresentasikan sifat-sifat jamaliyyah Tuhan. Karena itu malaikat tidak pernah mengenal dosa dan pelanggaran. Berbeda dengan manusia, selain merepresentasikan sifat-sifat jamaliyyah juga mewarisi sifat-sifat jalaliyyah yang menempatkan manusia sebagai representasi utuh Tuhan.

(nwy/nwy)