Makna Kemarahan Jokowi di Pidato 18 Juni dari Perspektif Budaya Jawa

Tim detikcom - detikNews
Senin, 06 Jul 2020 18:34 WIB
Ekspresi Jokowi dianalisis pakar gestur. (Tangkapan layar kanal YouTube Setpres RI)
Foto: Ekspresi Jokowi dianalisis pakar gestur. (Tangkapan layar kanal YouTube Setpres RI)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlihat kesal dan marah saat membuka rapat terbatas bersama para menteri kabinetnya pada 18 Juni 2020 lalu. Apa makna kemarahan Jokowi jika dilihat dari perspektif budaya Jawa?

Analisis makna ini disampaikan oleh Wakil Direktur Media dan Demokrasi LP3ES, Wijayanto, dalam diskusi online LP3ES bertajuk 'Memaknai Kemarahan Jokowi: Analisa Big Data dan Budaya Politik', Senin (6/7/2020). Wijayanto menilai kemarahan Jokowi itu adalah sering dilakukan oleh orang Jawa.

"'Saya lihat masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ, ini apa nggak punya perasaan, suasana ini krisis. Karena memang suasana ini harus ada, suasana ini, Bapak Ibu tidak merasakan itu sudah'. Jadi ini khas jawa ya, karena emang Jawa itu sangat mementingkan roso, dan sangat mementingkan timpang rasa," ujar Wijayanto sambil menirukan perkataan Jokowi saat memberikan arahan kepada menterinya saat itu.

Dia juga menganalisis kemarahan Jokowi dari beberapa sisi, pertama dari sisi kekuasaan. Mengutip teori dari Ben Anderson, Wijayanto mengatakan kekuasaan itu ada 4 makna, yaitu suatu hal yang konkrit yang ada secara terpisah dalam diri seseorang, lalu kekuasaan homogen atau kekuasaan sama, ketiga ada kekuasaan yang ad di dunia dengan jumlah yang tetap. Serta kekuasaan yang didapat dari pulung.

Pulung, kata dia, adalah cahaya dari langit berwarna biru kehijauan. Cahaya itu terjadi dari manik-manik keemasan dan tembaga, biasanya orang yang kejatuhan pulung hidupnya akan dipenuhi belas kasihan kepada sesama. Menurutnya, Jokowi ini memiliki pulung ini.

"Narasi ini muncul mengiringi kemunculan Jokowi, jadi itulah kenapa Jokowi terpilih Presiden Indonesia, saingannya banyak dan, (dia) bukan dari elite, karena dia sudah terpilih. Jadilah dia punya pulung itu. Nah, ini konsisten, karena ada keyakinan itu maka konsisten tadi sesuatu hal yang ada di Jokowi menempatkannya sebagai pemilih, namun ketika seseorang berkuasa, dan sudah tak dihendaki lagi, maka seberapa pun hasil polling, terlepas survei-survei, kalau dia memang terpilih, dia akan jadi, sebaliknya dia bisa kehilangan kekuasaannya," jelasnya.

Wijayanto mengatakan ketika pemimpin sudah mulai luntur kekuasaannya, itu ada ciri-cirinya. Yaitu ketika lemahnya keharmonisan sosial di lingkungannya, maka seringkali orang Jawa itu menghindari konflik. Wijayanto juga menyebut dalam budaya Jawa, semakin tinggi kekuasaan seseorang bahasa dan tutur katanya juga akan semakin halus.

"Dalam budaya Jawa, hirarki diekspresikan dalam bahasa. Jadi orang-orang keraton bahasanya lebih halus. Semakin tinggi kekuasaan atau power seseorang semakin halus lah bahasanya, tidak hanya bahasa, tapi juga tutur kata bagaimana bicara dan menampakkan gesture fisik," katanya.

"Jadi ketika Presiden Jokowi menampakkan secara terang-terangan, kemarahaan luar biasa dengan gesture, mukanya, dengan kata-katanya, intonasinya, maka ini sebenarnya suatu hal luar biasa yang tidak mengingkari, yang tidak cocok dengan prinsip ini ya," sambungnya.

Lalu apa analisis Wijayanto terkait dengan kemarahan Jokowi saat memberi arahan kepada menteri 18 Juni lalu?

"Dalam perspektif budaya Jawa, kemarahan Presiden Jokowi yang ditampakkan secara terbuka dapat dijadikan pertanda semakin lemah kuasa politiknya. Karena kalau dia masih kuat, dia cukup senyum kepada menterinya yang dinilai nggak bagus kerjanya, dan mengatakan 'maaf anda akan saya reshuffle', atau bahkan nggak harus gitu cukup tersenyum bilang 'anda saya reshufle ya'," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2