Kolom Hikmah

Usir Sombong, Stop Pandemi

Abdurachman - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 08:04 WIB
Prof Abdurrachman, Guru Besar Unair
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Ketika Allah swt memerintahkan iblis untuk 'bersujud' kepada Nabi Adam as., ia menolak,"Saya lebih baik daripadanya"(QS. 7:12). Iblis dari golongan jin (QS. 18:50) yang ibadahnya sudah beratus tahun. Gara-gara sombong (QS. 7:13) ia terhempas dari kemuliaan serta kesempurnaan kedudukan di kalangan para malaikat.

Dunia semakin maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), termasuk bidang medis semakin canggih. Manusia seolah mampu menangani segala persoalan hidup dengan mudah, cepat dan selesai. Apakah benar?

SARS-CoV-2 adalah virus ribonucleic acid (RNA) yang berukuran antara 0,15 - 0,2 mikron. Ukuran yang terlalu kecil untuk mata telanjang, masih juga terlalu kecil untuk mikroskop standar. Diperlukan mikroskop canggih untuk mencapai ukuran virus ini.

Demi manangani virus yang begitu kecil manusia di seluruh dunia belum mampu. Betapa pun mereka saling membantu, bekerjasama. Belum bisa. Buktinya sampai saat ini dunia masih sepakat mengatakan situasi pandemi global. Nyatanya korban masih berjatuhan. Itu di seluruh dunia.

Mereka yang menjadi korban bukan hanya masyarakat awam, bahkan para tenaga medis pun berguguran. Para dokter juga para perawat. Layaknya SARS-CoV-2 sengaja membuat situasi pertarungan yang memastikan dirinya selalu menang. Pada titik ini sudahkah perasaan perkasa, serba tahu, canggih di hadapanNya mampu dibuktikan? Tidak, sekali lagi tidak!

Lalu bagaimana? Usaha! Itu benar. Bukankah daya upaya seluruh penduduk bumi sampai detik ini seolah sudah tertumpah-ruahkan, total? Mengapa si penyebab Covid-19 seperti tak terusik. Mengayunkan langkah ke mana saja sesuai maunya. Bergelayutan pada tubuh orang-orang yang berkenan 'menggendongnya".

Sudahkah semua kita "melapor" dalam doa kepadaNya. Apakah sudah sungguhan, sepenuh hati hingga mencapai tingkat tawakkal?

Jika jawabnya iya berarti pandemi pasti berakhir, mengapa? Bukankah hanya Dia Yang Maha Kuasa untuk mengijinkan siapa pun dan apa pun makhluqNya untuk bisa menimbulkan efek? (QS. 2:255)

Bukankah setiap doa pasti dikabulkan (QS. 40:60) jika yang berdoa benar-benar yaqin. Ialah doa dimintakan kepadaNya saja, didasarkan kepada keimanan, keyakinan yang menghujam di dalam hati (QS. 2:186)

Perhatikan ketika iblis la'natullaah 'alayhi, berdoa, "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan" (QS. 7:14). Doa ini diijabah, dikabulkan Allah swt. "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh" (QS. 7:15).

Demikian juga ketika Abu Jahal dan kawan-kawannya bergelayutan pada qishwah (tutup) Ka'bah sambil berdoa,"Ya Allah, jika betul (al-Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih" (QS. 8:32).

Doa mereka pun dikabulkan. Mereka diazab melalui peristiwa Badar lalu dikubur di sana beberapa waktu setelah mereka majukan doa itu.

Bagi sejumlah besar kita yang mengaku beriman, yaqin bahwa Allah swt pasti mengabulkan doa-doa kita, sudahkan semua kita melakukannya, penuh iman?

Bukti penuh iman antara lain bersungguh-sungguh dengan doa itu. Ialah melakukan kegiatan yang sejalan dengan doa itu yang antara lain; mengindarkan diri dari permainan 'mark up' harga rapid test.

Sesuai informasi Laode Ida, salah satu anggota Ombudsman Republik Indonesia, melalui wawancara TV One. Laode Ida menyampaikan, bahwa harga dasar satu set alat rapid test 70-an ribu rupiah sedangkan temuan di lapangan biaya pemeriksaan berkisar antara 300 ribu rupiah sampai satu jutaan dan itu memaksa. Padahal di beberapa tempat seperti pelabuhan, bandara seharusnya menyiapkan rapid test secara gratis, karena pemerintah sudah mengeluarkan biaya trilyunan antara lain untuk itu.

Wawancara dipandu oleh Gita Fita pada slot siaran berita siang. You tube-nya menjadi viral di media sosial WhatsApp (WA).

Upaya-upaya ini termsuk usaha memanfaatkan ketakutan dan kecemasan masyarakat untuk keuntungan pribadi atau kelompok, lanjut Laode Ida.

Informasi senada dengan yang disampaikan Laode Ida, terekam dari diskusi salah satu grup WA. "Kalau aku ya beli rapid test kalau posisiku sebagai pimpinan program (pinpro). Dengan upah 10 ribu per tes, jika pemesanan 100.000 kan aku sudah dapat 1 milyar. Ini jawaban orang dalam ketika kutanya mengapa rapid test langsung dibeli dalam jumlah besar, bukannya mendengarkan para ahli bicara".

Perilaku demikian di masa negara sedang menghadapi pandemi bisa dikategorikan sebagai tindakan khianat kepada masyarakat dan Bangsa. Pasti perilaku ini termasuk perilaku bukan iman, perilaku ingkar atau kafir.

Kalau demikian, supaya kita memang benar-benar berdoa didasarkan kepada iman yang sahih, mari kita tinggalkan perilaku di atas, serta perilaku lain yang justru bukan bertujuan mengusir pandemi. Malah mengambil untung di masa kesulitan, na'uudzubillaah.

Perilaku demikian bisa dikategorikan sombong jika siapa pun yang melakukannya seolah merasa mampu 'melawan' siksa Tuhan. Aneh, melawan Covid-19 saja tidak mampu, masa menantang Tuhan?

Allahumma, mampukan kami semua ber-istighfar, memohon ampunan Engkau, agar sejak saat ini tidak melakukan apa pun yang berkatageori kafir (menantang azab Tuhan, sombong). Kami memohon kepada Engkau duhai Allah agar pandemi benar-benar berakhir, aamiin!

Abdurachman

Guru Besar FK Universitas Airlangga

Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA)

Past President APICA-6

Executive Board Member of APICA

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab pengirim. --Terima kasih (Redaksi)--

(erd/erd)